Krisis Air Bersih Sejak Gempa 2018, Warga Panji Sari Tetap Bayar Air PDAM

oleh -1337 Dilihat
FOTO HILMI JURNALIS KORANLOMBOK.ID / Warga saat mengambil air bersih bantuan pemerintah.

 

 

LOMBOK — Sejak gempa tahun 2018 silam. Warga Kampung Sebati, Lingkungan Bukal Malang, Kelurahan Panji Sari, Kecamatan Praya mengalami krisis air bersih. Sampai sekarang belum ada solusinya. Kendati air PDAM jarang mengalir, warga mengaku tetap bayar tagihan air setiap bulan dari perusahaan milik daerah tersebut.

 

Salah satu warga setempat, Sumiati menceritakan bahwa krisis air bersih sejak gempa melanda wilayah Lombok pada 2018.

 

“Kemarin sempat nyala sebentar, terus mati lagi. Bisa dikatakan dalam sebulan itu kadang hanya dua kali ada air, kadang juga tidak nyala sama sekali,” ungkapnya kepada media, Rabu 8 Oktober 2025.

Baca Juga  Direktur Muhsinin : Kami Beli Tiket Pesawat Baru Cari Jemaah

 

Sumiati mengatakan, atas kondisi ini pihaknya telah melaporkan ke pihak PDAM. Belum lama ini, petugas PDAM pun turun langsung untuk melihat kondisi air di wilayah mereka.

Dia menuturkan, bahwa setiap bulan warga tetap membayar air ke PDAM. Sayangnya, warga malah tidak pernah merasakan manfaat dari air yang dibayar. Anehnya, jika jatuh tempo warga tetap dikenakan denda.

 

“Kalau air bantuan diberikan ini kita gunakan untuk keperluan memasak, minum, dan mandi,” ceritanya.

Baca Juga  Asrama Putra SMP Islam Darul Aminin NWDI Terbakar

 

 

Lurah Panji Sari Samsul menegaskan, air bersih ini mulai langka sekitar 2 bulanan. Apalagi bagi warga kampung Sebati, Lingkungan Bukal Malang. Mirisnya, air PDAM hanya satu tahun lumayan lancar selebihnya tidak pernah.

 

 

“Tidak semua tempat di lingkungan Bukal Malang dan kami juga telah berupaya semaksimal mungkin ke PDAM cuma itu itu aja rupanya, kami sudah melapor dari tahun tahun kemarin,” ungkapnya via ponsel kepada jurnalis Koranlombok.id.

 

Baca Juga  TNI Siaga 1, Dandim Loteng: Pokoknya Kita Siap Bergerak

Samsul menuturkan, pemerintah kelurahan sedang menunggu jawaban dari PDAM terkait surat yang sudah dilayangkan.

“Kita mau pasangkan sumur bor, tapi tidak ada dana dan kami juga sudah melaporkan tahun kemarin ke BWS dengan membawakan proposal cuma jawabannya untuk anggaran 2026. Kami lansung ke balai besar BWS di Grimak,” ceritanya.

Lurah berharap supaya secepatnya ada jalan keluar atas masalah ini. Pihak PDAM juga harus mengatasi masalah yang sudah bertahun-tahun terjadi.(hil)

 

Tentang Penulis: Redaksi Koranlombok

Gambar Gravatar
Koranlombok media online dari Provinsi Nusa Tenggara Barat. Koranlombok selalu menayangkan berita Penting, Unik dan Menarik untuk dibaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.