LOMBOK – Seorang relawan kemanusiaan asal Nusa Tenggara Barat (NTB), Sukmadi Farid Sabri sekaligus Tim Program Humanity MIM Foundation menceritakan pengalamannya selama di Sumatera dan Aceh Tamiang.
Dia menceritakan kondisi yang memprihatinkan selama dirinya menyaksikan kondisi masyarakat di sana. Dalam kunjungannya, Farid menemukan dampak kerusakan parah, ratusan rumah hanyut, korban jiwa, serta trauma mendalam yang dialami masyarakat terdampak bencana alam.
Tim Program Humanity MIM Foundation ini mengatakan, sekitar dua pekan lalu dia bersama tim berangkat ke Sumatra Barat dan mendarat di Padang.
Sesampainya di sana, kata dia, ia bersama tim berkoordinasi dengan relawan lokal yang telah turun lebih dahulu untuk mendapatkan data sebaran wilayah terdampak, korban jiwa yang terdata, serta titik-titik lokasi bencana.
“Waktu itu memang kondisi di Padang sendiri hujannya belum berhenti. Bahkan selama dua hari kami berada di sana, hujan terus turun. Jadi kami melakukan aksi dalam kondisi yang masih mengkhawatirkan, terutama bagi masyarakat yang cukup trauma mendengar suara hujan,” ungkapnya saat podcast bersama jurnalis Koranlombok, Minggu 21 Desember 2025.
Video Podcast :
Lanjut cerita, tim kemudian memutuskan menuju dua lokasi utama. Lokasi pertama di Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Di lokasi tersebut terdapat jembatan yang hancur dan menjadi titik dengan korban jiwa terbanyak. Saat kejadian, masyarakat sedang menggelar acara hajatan. Karena curah hujan yang tinggi, masyarakat sempat diimbau oleh polisi dan TNI untuk menepi ke tempat yang lebih tinggi.
Namun, air bah datang tidak hanya dari sungai yang menghancurkan jembatan, tetapi juga dari arah perbukitan. Kondisi geografis Bukit Tinggi yang berbukit menyebabkan air menghanyutkan warga yang mengungsi, termasuk aparat TNI dan Polri.
“Kami ke sana untuk menyalurkan bantuan. Setelah itu kami menuju Desa Malalak di Kabupaten Agam yang menurut kami menjadi salah satu titik terparah di Sumatera Barat,” katanya.
Dia menjelaskan, sebelum kejadian kawasan tersebut merupakan permukiman biasa di bawah perbukitan. Namun banjir bandang membuat jalur sungai baru yang menerobos permukiman warga dan menghabiskan hampir seluruh kawasan. Sekitar 300 rumah dilaporkan hanyut akibat bencana tersebut.
Melihat kondisi yang cukup parah, tim memutuskan untuk fokus melakukan aksi kemanusiaan selama tiga hari di lokasi dengan membersihkan rumah-rumah warga yang tertimbun lumpur setinggi kurang lebih 1,5 meter. Saat kejadian, banjir bahkan sempat menutup atap rumah. Selain itu, tim juga mengadakan bantuan psikososial karena banyak anak-anak dan warga yang mengalami trauma.
Menurut informasi yang diterima, khusus di Desa Malalak terdapat tujuh orang yang belum ditemukan. Sementara di Kabupaten Agam secara keseluruhan tercatat sekitar 78 orang meninggal dunia dan sekitar 13 orang masih dalam pencarian, ceritanya.
Katanya, bencana terjadi di banyak desa karena titik banjir tidak hanya satu dan disertai tanah longsor akibat kondisi wilayah yang berbukit. Saat menyisir daerah terisolasi, tim menemukan sekitar 18 titik banjir dan longsor di Kabupaten Agam.
“Kami tiba di sana pada malam hari dan kondisinya cukup mencekam. Masyarakat banyak yang tidak berani keluar dari posko pengungsian dan aktivitas kendaraan sangat minim. Yang banyak bergerak hanya kendaraan BNPB, kepolisian, dan beberapa relawan,” ungkapnya.
Dia menuturkan, estimasi perjalanan dari bandara menuju Kabupaten Agam memakan waktu sekitar lima hingga enam jam. Jarak antar titik banjir di wilayah tersebut sekitar satu hingga dua jam karena sebaran lokasi yang sangat luas.
Selama berada di lokasi, tim tinggal di pengungsian setelah berkoordinasi dengan relawan setempat agar penyaluran bantuan tidak terlalu jauh dari posko, ujarnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa kondisi listrik di lokasi sempat padam. Namun secara umum, kondisi di Kabupaten Agam sudah cukup kondusif karena warga telah berada di tempat pengungsian. Khusus di Desa Malalak, tercatat sekitar 78 kepala keluarga kehilangan tempat tinggal.
“Saat kami di sana, tidak ada kejadian anak mencari ibu atau sebaliknya. Orang-orang yang kehilangan anggota keluarga sebagian besar sudah ditemukan,” katanya.
Ia menambahkan setelah menyelesaikan misi di Sumatera Barat, tim memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Aceh Tamiang yang saat itu menjadi perhatian publik. Pihak yayasan berharap tim dapat menjangkau wilayah tersebut.
“Sebenarnya kami ingin pergi lewat jalur darat, tetapi karena kondisi saat itu kami memilih jalur udara melalui Medan. Kami juga berbelanja logistik sekitar 3 ton yang kemudian dibawa ke Aceh,” ujarnya.
Dalam perjalanan menuju Aceh Tamiang, pihaknya menemukan kondisi yang cukup memprihatinkan. Ia menuturkan, perbedaan kondisi jalan sangat terlihat saat memasuki perbatasan Sumatra Utara dan Aceh. Banyak masyarakat yang meminta-minta di pinggir jalan dan berharap belas kasih dari pengguna jalan.
“Kami berangkat hari Sabtu. Estimasi perjalanan empat jam berubah menjadi 14 jam karena kondisi jalan di Aceh Tamiang yang berlumpur. Hampir seluruh wilayah Kabupaten Aceh Tamiang terendam banjir,” ceritanya.
Setibanya di Aceh Tamiang, tim mencari lokasi posko yang relatif kondusif karena adanya informasi penjarahan. Akhirnya, posko didirikan di Kampung Durian dan logistik diturunkan di lokasi tersebut karena posisinya lebih tinggi meski tetap terdampak banjir.
“Jika dibandingkan dengan wilayah Aceh lainnya, Aceh Tamiang termasuk yang paling parah. Namun secara keseluruhan, dari 26 kabupaten/kota di Aceh, sekitar 18 wilayah terdampak banjir,” jelasnya.
Ia menyebutkan, berdasarkan informasi yang diperoleh terdapat sekitar 200 korban jiwa yang terdata, sementara beberapa lainnya masih dalam proses pencarian, terutama di daerah aliran sungai.
“Kondisi sungainya sangat ekstrem. Lebarnya sekitar 50 meter dan arusnya sangat deras. Di bawah jembatan terdapat permukiman bernama Kota Lintang, di mana rumah-rumah di bantaran sungai habis, menyisakan hanya satu masjid,” tuturnya.
Terkait banyaknya kayu gelondongan, ia membenarkan bahwa kayu-kayu tersebut menumpuk di Pondok Pesantren Internasional Boarding School Darul Muhlisin dengan luasan sekitar dua hektare. Lokasi pondok berada di luar permukiman desa dan secara tidak langsung menahan gelondongan kayu agar tidak masuk ke pemukiman warga.
Ia menambahkan, wilayah Aceh Tamiang memiliki banyak sungai. Menurut pengakuan warga setempat, banjir terakhir terjadi pada 2022, namun tidak sedahsyat banjir kali ini karena disertai lumpur dan gelondongan kayu.
Pada malam hari, kondisi listrik di Aceh Tamiang masih padam. Akses listrik hanya menggunakan genset dan itu pun terbatas hingga pukul 22.00 WITA.
Ia juga mengungkapkan adanya kecemasan masyarakat dan relawan terhadap potensi banjir susulan, terutama karena wilayah Aceh Tamiang didominasi perkebunan sawit, baik di dataran tinggi maupun rendah.
Menurut masyarakat setempat, jika dibandingkan dengan tsunami Aceh, proses pemulihan pascatsunami justru lebih cepat dibandingkan pemulihan akibat banjir saat ini.
“Tsunami Aceh merupakan bencana nasional sehingga banyak tim yang dikerahkan. Sementara saat ini, kami melihat proses pemulihan bisa memakan waktu tiga hingga enam bulan,” ujarnya.
Ia menambahkan, saat ini bantuan yang paling dibutuhkan masyarakat adalah sembako karena kondisi ekonomi belum pulih sepenuhnya. Beberapa pedagang di Pasar Irma Aceh Tamiang pun baru mulai berjualan beberapa hari terakhir.
Berdasarkan pengamatan tim, pemerintah telah berupaya maksimal dalam penanganan bencana di Aceh maupun Sumatra secara umum. Namun, ia menilai kunjungan pejabat negara masih terfokus pada posko-posko besar atau lokasi yang mudah dijangkau.(hil)





