LOMBOK – Jumlah siswa keracunan diduga karena mengkonsumsi susu kemasan dari program makan bergizi gratis (MBG) di Desa Darmaji, Kecamatan Kopang, Lombok Tengah bertambah menjadi 38 orang siswa.
Siswa korban keracunan ini berasal dari SDN 1 Darmaji dan MI Hidayatusholihin NW Lanji. Awal para siswa ini mengalami gejala mual, pusing dan muntah setelah minum susu kemasan, Sabtu, 17 Januari 2026 sekitar pukul 9.30.WITA.
Data yang diterima Koranlombok.id, 24 orang siswa dilarikan ke Puskesmas Pengadang. Sementara 14 siswa dirawat di Puskesmas Muncan. Selama perawatan di dua puskesmas, tersisa dua orang siswa menjalani rawat inap dan sisanya boleh dipulangkan.
Kepala Bidang Pengendalian Pencegahan Penyakit dan Kesehatan Lingkungan (P3KL) Dinas Kesehatan Lombok Tengah, Putrawangsa yang turun ke lokasi SPPG langsung memeriksa penyebab kejadian tersebut. Pihak Dikes telah mengambil tiga sampel makanan untuk dicek di laboratorium BPPOM Surabaya.
“Hari ini kami kirim langsung samplenya, kita pastikan bahwa dari BPPOM BTKN Surabaya itu mengeluarkan hasil sampel dan memastikan konsumsi oleh penerima manfaat tidak terkandung berbahaya,” terangnya kepada media di SPPG di Dusun Lanji, Desa Darmaji, tadi siang.
Sementara itu soal sanksi kepada pihak SPPG menjadi wewenang dari badan gizi nasional (BGN). Dinas Kesehatan hanya bisa memberikan evaluasi, pengawasan dan memberikan laporan riwayat kasus serta sampel kepada BGN.
Terkait dugaan susu kemasan kadaluarsa, Putrawangsa belum mengetahui persis karena pihak Dinas Kesehatan telah mengamankan sampel. Dinas memberikan saran kepada SPPG untuk selalu melakukan pengecekan ulang bahan makanan yang akan disajikan sebelum didistribusikan.
“Jadi kami meminta teman-teman mitra, SPPI dan ahli gizi untuk mengolah dan menscreening semua sehingga nanti saat didistribusikan makanan sudah aman semua,” puntanya.
Terpisah ditemui Surveillance Puskesmas Muncan, Sahrun mengatakan berdasarkan pemeriksaan dan analisis dokter penyebab 14 siswa yang dirawat mengalami mual dan pusing setelah tiga puluh menit menkonsumsi susu kemasan yang diberikan pihak dapur MBG.
Pihak Puskesmas Muncan juga mengamankan sample susu yang tanggal kadaluarsanya tertulis 16 Januari 2026. Dedangkan satu sample lagi tidak tertera tanggal kadaluarsa di kemasan.
“Alhamdulilah semua pasien yang dirawat sudah tertangani dari 14 pasien tinggal dua yang rawat inap sisanya menjalani rawat jalan,” katanya.
Salah satu orangtua pasien, Titi Cahyati menceritakan bagaimana putrinya yang duduk di bangku Kelas VI MI Hidayatusholihin NW Lanji merasakan mual dan ingin muntah setelah pulang dari sekolah.
Sebelum dibawa ke Puskesmas Muncan, orangtua mencoba memberikan putrinya air kelapa muda namun gejala tersebut masih dirasakan anaknya.
“Panas dingin, pusing, katanya perutnya sakit,” cerita ibu korban.
Dia berharap pengelola program MBG lebih memperhatikan makanan yang disajikan oleh mereka kepada anak-anak di sekolah.(nis)





