LOMBOK – Akhir-akhir ini masyarakat terus memadati sekitar Gunung Kong Bawi di Dusun Belenje, Desa Serage, Kecamatan Praya Barat Daya, Lombok Tengah. Mereka datang berbondong-bondong untuk memburu emas.
Jurnalis koranlombok.id yang langsung turun ke lokasi melihat setidaknya ratusan orang memenuhi sungai kecil di sekitar Gunung Kong Bawi. Mereka membawa dulang dan alat sederhana lainnya seperti wajan, ember dan ayakan pasir untuk mencari serpihan emas yang terjebak dalam pasir dan tanah yang mengendap di dasar sungai.
Rata-rata masyarakat mengaku mengetahui gunung ini mengandung emas dari sosial media serta cerita mulut ke mulut.
“Ada cerita yang dapat 2 gram satu kali angkat dalam sehari,” tutur Samsul Hadi warga dari Kecamatan Jonggat yang ditemui di lokasi, Selasa, 3 Februari 2026.
Samsul bercerita, dia baru pertama kali datang ke Gunung Kong Bawi bersama rombongan.
Katanya, dia sejak pagi mengais tanah pasir endapan sungai dan mendulangnya. Tapi baru sedikit butiran emas yang terlihat dan dirinya masukan serpihan tersebut dalam sebuah toples.
Pria yang sebelumnya bekerja sebagai pemasang batu sikat ini berkata, usaha kali ini diharapkannya bisa memberikan tambahan penghasilan.
“Belum tentu dapat kan tergantung nasib, kalau mungkin Allah ridho mungkin kita minta satu ons saja,” harapnya.
Sari pemburu emas asal Gerung, Lombok Barat juga mengharapkan hasil banyak. Dia pertama kali juga mendulang emas di aliran sungai sekitar gunung tersebut menggunakan wajan.
Di lokasi, ia sempat menunjukan butiran-butiran emas bercampur pasir hitam yang didapatkannya hari ini. Selanjutnya untuk memisahkan antara butiran pasir dan emas tersebut menggunakan air raksa.
Dia mengaku masih belum mengetahui akan menjual hasil emas yang didapatnya nanti kemana. “Belum tau, nanti tanya teman-teman dulu,” katanya.
Untuk bisa mencari emas di sekitaran gunung ini, warga cukup membayar parkir kepada warga sekitar sebesar Rp 5000 per kendaraan.
Di lokasi yang sama, Bhabinkamtibmas Desa Serage, Aipda Indra Jaya Kusuma mengatakan aktivitas penambangan emas kurang lebih telah dimulai sejak satu bulan lalu.
Sementara itu pihaknya juga sudah kerap kali memberikan imbauan secara persuasif kepada warga yang menambang, karena dampak lingkungan bisa menyebabkan banjir dan longsor di sekitaran gunung.
“Kegiatan kami ini memberikan imbauan dengan Pak Babinsa kayaknya juga kurang direspons oleh penambang,” katanya.
Senada disampaikan Babinsa Desa Serage, Sertu Musa Retraubun. Ia mengatakan pihaknya menunggu perintah dari pimpinan terkait keberadaan tambang emas tersebut.
Sementara itu selama ini belum ada konflik yang terjadi antar penambang atau antara penambang dan masyarakat.
“Untuk konflik sih tidak ada, aman lah,” tuturnya.(nis)





