LOMBOK – Direktur Penganekaragaman Konsumsi Pangan, Badan Pangan Nasional (Bapanas) RI, Rinna Syawal saat turun inspeksi mendadak (Sidak) di Pasar Renteng, Praya menemukan fenomena unik.
Katanya, meskipun di sini ada produsen cabai tapi kemudian tidak langsung dijual di sini. Akan tetapi dijual ke Lombok Timur baru kembali ke Lombok Tengah. Sehingga jadi penyebab terjadinya peningkatan harga tinggi.
Kata Rinna, pasokan komoditas cabai langsung dari petani tidak dijual langsung di dalam daerah. Maka ini mempengaruhi harga jual yang sempat melambung tinggi Rp 150 ribu sampai 180 ribu per kilogram beberapa hari lalu. Sementara sekarang telah turun menjadi Rp 100 ribu per kilogram di Pasar Renteng, Praya.
“Cabai yang dihasilkan oleh petani di Lombok Tengah dijual dahulu ke Lombok Timur baru kemudian dijajakan kembali ke Pasar Renteng, Praya,” ungkapnya usai Sidak di Pasar Renteng, Praya didampingi pejabat Pemprov NTB, Pemkab dan Ketua Komisi II DPRD setempat, Selasa 24 Februari 2026.
Sementara diketahui per harinya stok cabai yang dihasilkan petani di Lombok Tengah disampaikan Bagian Ekonomi Sekretariat Daerah Lombok Tengah, 82 kwintal per hari. Menurut Rinna, seharusnya tidak terjadi kelangkaan.
“Jadi ada fenomena sedikit unik di Lombok Tengah ini,” sebutnya.
Dia berharap ada solusi yang dilakukan oleh Pemkab Lombok Tengah dalam mengatasi harga cabai selalu naik tinggi.
Selain itu, ia menyebutkan kenaikan harga cabai juga dipengaruhi oleh cuaca hujan deras sehingga hasil panen menjadi berkurang. Kondisi serupa terjadi juga di daerah lain seluruh Indonesia.
Sementara itu yang menjadi atensi pihaknya juga kenaikan harga daging ayam potong dari standar yang ditentukan pemerintah, yakni Rp 40 ribu per kilogram menjadi Rp 50 per kilogram.
“Mudahan dalam waktu dekat ini pasokan menjadi bertambah, sehingga harga stabil,” harapnya.
Sedangkan bahan pokok seperti beras, minyak goreng dan gula pasir diklaim masih stabil per hari ini. Begitu juga bumbu dapur seperti bawang merah, bawang putih dan lainnya.
Di tempat yang sama, Ketua Komisi II DPRD Lombok Tengah, Ferdian Elmansyah mendorong pemerintah kabupaten melalui Disperindag untuk cermat mendata harga bahan pangan pokok di pasar. Hal tersebut dikarenakan kenaikan harga komoditas cabai menjadi faktor inflasi tinggi di Lombok Tengah.
Dirinya juga meminta Pemda mencari solusi agar harga cabai di Lombok Tengah tidak melonjak drastis, terutama solusi agar cabai hasil petani Lombok Tengah yang banyak dan surplus bisa langsung dijual di dalam Lombok Tengah, bukan dijajakan dahulu keluar ke daerah.
“Karena kalau keluar dulu masuk lagi ke Lombok Tengah menyebabkan harga tinggi dan inflasi,” yakin Ferdi.
Ferdi mendorong adanya regulasi untuk mengatur distribusi cabai dan komoditas pokok lainnya, selain itu juga yang terpenting menurutnya strategi dan mekanisme agar hasil petani Lombok Tengah ke depan bisa terserap langsung secara maksimal.(nis)





