LOMBOK – Sebanyak 37 orang warga dirawat karena diduga keracunan takjil es buah yang dibeli di sekitar Desa Darmaji, Kecamatan Kopang, Lombok Tengah.
Mereka sempat dirawat di sejumlah tempat yakni, Puskesmas Muncan 17 orang, Puskesmas Langko 8 orang, Puskesmas Pengadang 6 orang dan di RSI Yatofa Bodak 6 orang.
“Mereka rata – rata telah mengkonsumsi takjil es campur yang dibeli di pinggir jalan di sekitar Desa Darmaji itu yang diakui oleh pasiennya. Walaupun dengan makanan lainnya tetapi diagnosis awal menderita simpton mual, muntah dan pusing,” ungkap Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dan Kesehatan Lingkungan (P3KL) Dinas Kesehatan Lombok Tengah, Putrawangsa, Jumat, 6 Maret 2026.
Sementara itu sebagian pasien ada yang telah dibolehkan pulang dan beberapa masih rawat jalan. Seperti di Puskesmas Langko dari 8 pasien 2 diantaranya masih dilakukan perawatan dan kemungkinan segera pulang.
Terkait hal ini, Dikes telah melakukan penelusuran epidiomologi dan masih mencari sample makanan yang belum dikonsumsinya atau muntahan dari pasien untuk selanjutnya dipastikan penyebab keracunan tersebut melalui uji di laboratorium BPOM Mataram.
“Karena memastikan itu kan perlu ada evidence base dari uji laboratorium,” terangnya.
Mengantisipasi hal ini, Dinas Kesehatan telah melaporkan kejadian tersebut kepada Plt Kepala Dinas Kesehatan dengan demikian diharapkan pihaknya dengan Pol PP tergabung dalam satu tim Satgas akan bergerak cepat melakukan pemeriksaan setiap sample kepada setiap penjaja makanan.
Putrawangsa mengatakan, kegiatan tersebut bersinggungan juga dengan hukum, maka ketika pihaknya menganggap suatu sample makanan beresiko maka perlu ada ketegasan dari aparat penegak hukum untuk tegas dan segera menarik makanan tersebut dari peredaran.
Pihaknya mengklaim setiap tahun rutin melakukan uji sample makanan yang dibuat oleh UMKM, tetapi yang menjadi masalah yang dihadapi adalah setiap tahun pihaknya selesai memeriksa sampling seluruh UMKM yang terdaftar. Namun muncul UMKM dadakan yang belum mendapatkan pemeriksaan uji sample.
“Kalau sampai hari ini kan dari seluruh UMKM sebagian besar kita bisa fasilitasi untuk pengambilan sample karena anggarannya dari BPPOM,” katanya.
Biasanya zat – zat yang berbahaya dan kerap dimanfaatkan para pedagang untuk mengolah makanan yakni borak, formalin dan pewarna rodamin. Namun berdasarkan pemeriksaan pihaknya penggunaan zat zat tersebut masih negatif atau belum ditemukan.
Katanya, yang paling berbahaya adalah jenis makanan basah yang hanya tahan beberapa jam tetapi tetap dijajakan sampai waktu menjelang berbuka.(nis)





