Dewan Suhaidi Minta Perkuat Koordinasi Menyikapi 300 Ha Padi Terancam Gagal Panen

oleh -168 Dilihat
FOTO ANIS PRABOWO JURNALIS KORANLOMBOK.ID / Anggota DPRD Lombok Tengah / Suhaidi.

 

 

LOMBOK – Tanaman padi milik masyarakat Desa Bonder dan Desa Persiapan Masjuring, Kecamatan Praya Barat, Lombok Tengah terancam gagal panen. Hal ini disebabkan air irigasi untuk mengairi sawah petani tersendat. Aspirasi ini disampaikan petani saat hearing di Kantor DPRD Lombok Tengah, Rabu 3 Juni 2026.

 

Anggota Komisi III DPRD Lombok Tengah, Suhaidi menegaskan terkait hal ini perlu adanya koordinasi yang baik dari tingkat bawah dari Lembaga Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) kepada Pengamat Pengairan Kecamatan Praya Barat, baru berkoordinasi dengan setiap juru air dan juru pintu yang membawahi wilayah setempat. Termasuk melakukan koordinasi juga kepada Induk Perkumpulan Petani Memakai Air (IP3A) di Daerah Irigasi Embung Surabaya untuk melakukan pengecekan hingga ke titik paling dasar.

Baca Juga  Pilkades Ditunda, Dewan Rifa’i Minta DPMD Segera Konsultasi Revisi Perda

 

“Kendalanya tadi saya lihat hanya satu, kurang koordinasi, kurang rembuk dan musyawarah di tingkat bawah. Saya lihat itu lembaga yang tidak berfungsi karena P3A, GP3A, IP3A itu kan SK dari Kementerian PUPR dan bahkan aturan dan awik-awik sudah melekat di anggaran dasar dan selanjutnya pasti ada anggaran rumah tangga yang bina awik -awik dan aturan segalanya,” katanya.

 

Sementara itu debit air dari Bendungan Surabaya diklaim sangat cukup untuk mengairi lahan sawah milik masyarakat Desa Bonder, namun perlu kesabaran dan melalui jalur koordinasi yang tepat di tingkat bawah sehingga perlu didata detail oleh P3A berapa hektare luas lahan yang membutuhkan air kemudian bersurat kepada IP3A dan pengamat pengairan setempat.

Baca Juga  Tiga Calon PPS di Lombok Tengah Terindikasi Pengurus Parpol

 

Selain itu mengantisipasi adanya oknum petani nakal yang menyedot air yang dialirkan, P3A bisa melibatkan peran Bhabinkamtibmas atau Polsek setempat.

 

“Jadinya air yang diminta oleh masyarakat itu juga bisa sampai ke petani,” tegasnya.

Sementara itu padi yang mereka tanam merupakan program optimalisasi lahan (oplah) yang diresmikan secara nasional untuk mendukung swasembada pangan, sehingga diminta menanam padi sebanyak tiga kali selama setahun.

Sedangkan saat ini rata-rata padi yang ditanam mereka telah memasuki usia dua bulan dan sangat butuh diairi agar tidak terjadi gagal panen. Ini disampaikan perwakilan petani sekaligus Ketua Forum Masyarakat Tani NTB, Lalu Supardiana.

 

“Program oplah yang ada di Desa Bonder dan Desa Masjuring itu masuk program oplah 467 hektare, dan yang tidak bisa diairi sekitar 300 an hektare, yang kita butuhkan satu atau dua kali pengairan insyaallah bisa tercover,” tegasnya kepada Koranlombok.id.

 

Baca Juga  Oknum Balon DPD RI Catut Nama Masyarakat, Jangan Kayak Makelar Tanah

Supardiana meminta agar air dari daerah irigasi setempat segera dialirkan agar tidak terjadi gagal panen, karena petani telah mengeluarkan modal dan tenaga yang cukup besar.

 

Katanya, jika sampai terjadi gagal panen karena keterlambatan jadwal pengairan pihakya akan melakukan aksi lebih besar dan meminta pertanggungjawaban Badan Wilayah Sungai (BWS) NT I,  Dinas PUPR dan Dinas Pertanian Lombok Tengah.

“Mungkin hari ini sudah mengalir tapi kemungkinan sampai di sana sekitar hari Jumat,” bebernya.(nis)

 

Tentang Penulis: Redaksi Koranlombok

Gambar Gravatar
Koranlombok media online dari Provinsi Nusa Tenggara Barat. Koranlombok selalu menayangkan berita Penting, Unik dan Menarik untuk dibaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.