Kembali Bangkit, Mengintip Persiapan Warga Sade Jelang Nyemulak

oleh -83 Dilihat
FOTO ANIS PRABOWO JURNALIS KORANLOMBOK.ID / Warga Dusun Sade mulai menyiapkan balok balok kayu untuk prosesi nyemulak yang dilaksanakan, Kamis 3 September 2026.

 

 

 

LOMBOK – Sejumlah warga Dusun Adat Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah mulai menyiapkan balok kayu untuk melakukan prosesi nyemulak atau membangun kembali rumah mereka. Salah satunya, Sadi Prakasa yang bersama dengan saudara kembarnya membangun kembali bale tani yang mereka tempati sebelumnya.

 

Cerita Sadi Prakasa, dalam prosesi nyemulak ini nantinya mereka akan menancapkan salah satu kayu sebagai tiang pertama yang menandakan pembangunan rumah mereka dimulai.

 

“Kalau untuk rumah adat bale tani ini membutuhkan sembilan tiang dan paling tidak besok kita menanam satu dahulu sebagai penyemulak atau sebagai awal kita membangun rumah menurut kepercayaan kami,” tuturnya kepada Koranlombok.id pada Rabu, 2 September 2026.

 

Cerita dia, sebelum tiang kayu ditancapkan, kayu dibentuk menjadi silinder sesuai dengan bentuk tiang sebelumnya. Kemudian jika kesembilan tiang ini telah selesai ditancapkan baru proses pembangunan rumah dilakukan sampai dengan selesai yang tak habis memakan waktu 10 hari.

 

Selain itu ada juga dua kayu untuk penyangga atap bale yang diberi nama tonjang dan satu lagi kayu yang menjadi talang struktur tersebut yang mereka sebut dengan sungsung .

Untuk kebutuhan kayu ini, mereka menggunakan kayu ulin karena dianggap awet dan anti rayap sehingga rumah yang dibangun bisa bertahan lama, selain itu masyarakat Sade juga menggunakan kayu akasia, sedangkan untuk mencari kayu yang sesuai dengan bahan bangunan seperti dahulu sulit untuk didapatkan karena menggunakan jenis kayu yang mereka sebut galih kunyit dan kayu galih kempas.

Selain itu sejumlah keluarga dan kerabat mereka dari dusun lain juga membantu memberikan kayu lama yang masih bisa digunakan, begitu juga untuk kebutuhan atap ilalang dan anyaman bambu yang bakal menjadi dinding rumah mereka. Saat ini sedang dibuat oleh kerabat mereka yang tinggal di luar Dusun Sade sementara mereka sedang membuat struktur bangunan.

Baca Juga  IPM Lotim Urutan Tujuh, Begini Respons Penjabat Bupati

 

Lanjut ceritanya, sebelum membangun rumah dimulai mereka akan menyiapkan sesajen atau andang – andang yang berisikan beras, telur, benang salak atau benang katak yang dipintal secara tradisional oleh mereka, bawang merah, bawang putih, cabai, pinang dan kapur sirih, rokok kelobot dan tembakau.

 

“Sama kepeng tepong atau uang koin yang bolong juga,” tuturnya.

 

Mereka memilih bulan September sebagai waktu yang tepat membangun rumah, kata Sadi, karena bulan maulid dianggap baik untuk melakukan prosesi – prosesi adat seperti pernikahan ataupun syukuran sejenis.

Sedangkan pada bulan selanjutnya, menurut budaya sasak adalah bulan Suwung, dimana prosesi – prosesi tersebut menurut kepercayaan suku sasak tidak boleh dilakukan.

Sementara itu terkait ada rencana pemerintah membuat penataan terkait jalur evakuasi jika ada kejadian hal serupa serta mitigasi lainnya, dia menyambut hal tersebut dengan baik.

 

Sedangkan soal sambungan listrik ucap Sadi, masyarakat telah berembuk dan bersepakat tidak akan dipasang kembali di setiap rumah mereka dan hanya digunakan di pinggir – pinggir dusun untuk sekadar lampu penerangan.

 

Soal adanya imbauan dari Wakil Menteri Perumahan dan Permukiman, Fahri Hamzah agar warga tidak membangun dahulu rumah mereka sendiri sebelum penataan yang dibuat selesai, dirinya tidak mengetahui dan tergantung bagaimana kepala dusun menyikapi hal ini.

 

Senada dikatakan warga lainnya, Amaq Juni alias Sadip. Dimana, imbauan pemerintah itu nanti tergantung bagaimana disampaikan oleh kepala dusun. Namun dirinya menyambut baik jika ada penataan aliran listrik ataupun jalan antar rumah untuk memudahkan adanya evakuasi bencana serupa.

Saat ini dirinya masih menata kayu – kayu yang dibutuhkan untuk prosesi nyemulak besok, sementara itu kebutuhan masing – masing rumah untuk kayu yang dijadikan tiang tersebut tergantung jenis rumah mereka.

 

“Kalau bale bonter beda lagi karena bentuk tiangnya persegi empat ada yang butuh 12 tiang, ada yang 9 tiang dan ada 6 tiang untuk bale kotong,” ucapnya.

Baca Juga  Sekda Klarifikasi Data Kemiskinan Ekstrem di NTB

 

Sadip mengatakan, dirinya setelah melakukan nyemulak akan langsung melanjutkan prosesi pembangunan rumah hingga selesai, namun proses tersebut mungkin tidak sekaligus mengingat biaya yang mungkin belum mencukupi.

 

“Kalau selesai ya sekitar Rp 150 juta, belum alang – alangnya, belum bedeknya, belum kayu untuk menahan bedeknya lagi. Alang – alang kan sekarang mahal,” ceritanya.

 

Ia menambahkan, rumah yang ditinggalinya tersebut dibangun mulai generasi diatas buyutnya dan turun temurun diwariskan hingga saat ini ditempati oleh dirinya dan keluarga.

 

 

 

Menteri Fahri Hamzah Imbau Warga Sade Tak Membangun Dulu

 

 

Sementara, Wakil Menteri Perumahan dan Permukiman RI, Fahri Hamzah menyambangi Dusun Adat Sade dan melihat kondisi ikon pariwisata budaya di Lombok Tengah Rabu, 2 September 2026.

 

Kunjungan Fahri sebagai tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo dalam rapat terbatas semalam yang dihadiri oleh Menteri Pariwisata, Widiyanti Purti Wardhana dan Menteri Kebudayaan, Fadli Zon.

Sementara itu soal keinginan warga untuk membangun sendiri setiap rumah adat mereka, Fahri meminta agar infrastruktur dasar terkait penataan aliran listrik yang aman serta mitigasi lainnya selesai dirancang oleh Universitas Mataram dan bekerjasama dengan pihak lainnya.

 

Soal sampai kapan warga dibiarkan menunggu tergantung dari kapan selesainya rancangan tersebut, Fahri mengerti kebutuhan mendesak warga namun pihaknya memiliki keinginan proses rekontruksi dibangun menjadi lebih baik dan untuk jangka panjang dan kelestarian budaya kedepan.

 

“Kalau dikerjakan masing – masing khawatirnya desa budayanya hilang, keamanannya tidak tercapai, keindahannya tidak tercapai, kebersihannya tidak tercapai karena infrastruktur sanitasi dan lain – lain tidak diselesaikan karena itu perlu investasi yang lebih besar sehingga nanti desa ini hanya menjadi desa biasa, kita ini maunya desa ini lebih baik dari yang lalu sehingga kunjungan wisata jauh lebih banyak,” harapnya.

Baca Juga  Atap SDN Menyiuh Roboh, Dewan Tohri Sudah Usulkan Perbaikan

 

Fahri menjamin rumah masyarakat dibangun sesuai dengan bentuk aslinya, karena Dusun Sade merupakan destinasi wisata budaya yang sudah sangat terkenal dan perlu dipastikan aspek keamanan, keselamatan dan kebersihan dan untuk realisasi hal ini pihaknya kedepan akan menggandeng Kementerian Pekerjaan Umum.

 

Fahri juga telah mengusulkan dalam rapat terbatas dengan presiden agar ada pembahasan lintas kementerian dan bekerjasama dengan para ahli dan perguruan tinggi serta bekerjasama dengan Pemda terkait penyelesaian masalah jangka pendek yang dilakukan, agar Dusun Adat Sade tidak hanya punya dampak komersial tetapi juga dampak edukasi dan pengetahuan.

 

Kendati sejumlah sumbangan mengalir dari berbagai pihak untuk pembangunan museum, masjid serta fasilitas lainnya sambung Fahri pemerintah bertanggung jawab untuk mengurus agar imfrastruktur di Sade bertahan lama dan tidak mudah terkena bencana kebakaran seperti sebelumnya.

 

 

Disamping itu, Wamen Fahri Hamzah juga meminta agar setiap masyarakat dibuatkan rekening melalui Bank BTN untuk menerima sejumlah bantuan biaya hidup masyarakat kedepan.

 

Di tempat yang sama Bupati Lombok Tengah, Lalu Pathul Bahri mengatakan soal pembangunan secara menyeluruh masih menunggu desain yang dibuat dan didiskusikan kembali oleh masyarakt untuk difinalisasi.

 

“Ini masih didesain, desain engineering detail,” kata Pathul.

 

Sementara besok masyarakat akan melakukan prosesi adat nyemulak berdasarkan waktu yang baik berdasaekan petunjuk tradisi adat mereka pada Kamis, 3 September 2026.

“Ini mengambil waktu yang barokah yang sudah dihitung oleh leluhur, orangtua – orangtua yang memiliki ilmunya sampai di trah ini, mengambil waktu dan jam barokah menurut tradisi kelaurga masyarakat desa,” bebernya.

Sedangkan estimasi nilai kerugian setiap masyarakat yang memiliki art shop di Dusun Sade ditaksir sebesar Rp 35 juta, soal ini pemberian modal usaha masyarakat kedepan pemerintah masih mendiskusikan hal tersebut lebih lanjut agar tidak keliru.(nis)

 

Tentang Penulis: Redaksi Koranlombok

Gambar Gravatar
Koranlombok media online dari Provinsi Nusa Tenggara Barat. Koranlombok selalu menayangkan berita Penting, Unik dan Menarik untuk dibaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.