LOMBOK – Kepala Dinas Pertanian Lombok Timur, H. Sahri membeberkan alokasi pupuk subsidi untuk tahun 2024. Berdasarkan usulan pada Sistem Elektronik Rencana Defenitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK) yang usulkan kelompok tani tercatat sebanyak 33,413 ton jenis pupuk urea dan 43,225 ton untuk pupuk NPK.
“Itu usulan, namanya kita usulkan se-Indonesia tentu diukur oleh kemampuan negara, maka turun alokasi,” terangnya kepada media, Selasa (23/1/2024).
Dari jumlah tersebut, saat ini alokasi pupuk subsidi yang sudah terealisasi sebanyak 17,648 ton jenis Pupuk Urea dan sebanyak 12,700 untuk Pupuk NPK.
Untuk memastikan distribusi pupuk berjalan dengan baik, pihaknya menegaskan bakal melakukan pemantauan ketersediaan pupuk di gudang- gudang hingga distribusi ke pengecer bahkan petani.
Untuk memastikan distribusi pupuk subsidi tepat sasaran, pihaknya terus mengimbau kepada para distributor untuk melakukan distribusi pupuk subsidi sesuai dengan aturan. Dengan demikian para petani akan bisa menikmati pupuk subsidi secara merata sesuai dengan alokasi yang tersedia.
Selain itu berdasarkan informasi yang pihaknya terima, pada tahun ini akan ada penambahan kuota alokasi pupuk subsidi sehingga nantinya bisa menambah produktifitas para petani.
“Kami mengimbau untuk melaksanakan distribusi pupuk subsidi, baik itu dari distributor ke pengecer, kemudian pengecer ke kelompok tani sesuai dengan aturan,” imbaunya.
Sahri mendorong agar para petani memanfaatkan pupuk organik. Menurut dia, pupuk organik akan membuat tanah semakin subur jika dipupuk dalam jumlah besar. Berbeda dengan pupuk kimia yang membuat tanah semakin kurus dan membuat kebutuhan pupuk semakin meningkat setiap tahun.
“Pupuk organik atau kompos selain memupuk tanaman juga memupuk tanah sehingga semakin subur,” katanya.
Sementara, informasi yang dihimpun jurnalis Koranlombok.id harga beli pupuk Jenis Urea di petani saat ini tembus harga Rp.650 per kwintal. Para petani pun mengaku sudah menyiapkan pupuk sejak akhir tahun 2023 dengan harapan bisa memupuk tanaman padi tepat waktu.
“Kalau pupuk sudah saya beli bulan Desember lalu, karena pupuk pasti langka kalau mau beli saat dibutuhkan,” kata Karmin, salah seorang petani di Kecamatan Sakra Timur.(fen)





