Polisi Belum Bisa Ungkap Kasus Kematian Santri di Janapria dan Praya

oleh -1817 Dilihat
FOTO HILMI JURNALIS KORANLOMBOK.ID / Kasat Reskrim Polres Lombok Tengah : IPTU Luk Luk Il Maqnun

 

 

LOMBOK – Sampai dengan saat ini penyidik Reskrim Polres Lombok Tengah belum mampu mengungkap pelaku yang menyebabkan dua santri tewas. Pertama di Pondok Pesantren Al-Azhar Dusun Dadah, Desa Setuta, Kecamatan Janapria. Kedua, Ponpes ternama yang masih disembunyikan identitasnya di Kecamatan Praya.

 

Kasat Reskrim Polres Lombok Tengah, IPTU Luk Luk Il Maqnun mengatakan, pihaknya masih melakukan penyelidikan terkait meninggalnya santri di Desa Setuta, Kecamatan Janapria.

Katanya, sampai saat ini pihaknya sudah melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi dan pihak terkait lainnya.

Dia menegaskan, pihaknya juga sudah melakukan penyelidikan semuanya dan nanti tinggal menunggu proses penyelidikan kembali. Katanya, ini harus kita lakukan tapi belum bisa diungkap.

 

Dijelaskan Kasat Reskrim, untuk pelaporannya hanya melakukan pelaporan terhadap adanya kasus kematian saja.

“Kasus ini masih penyelidikan,” kata Luk Luk kepada media, Rabu 3 September 2025.

Dikatakan Luq Luq, sejauh ini pihaknya telah melakukan pemeriksaan dengan memeriksa semua orang yang terkait. Namun detail tidak disebutkan identitasnya siapa.

 

Sementara terkait kasus kematian santri di asrama Ponpes ternama di Kecamatan Praya, juga sama belum ada tersangkanya. Polisi masih melakukan penyelidikan.

“Kita tinggal menunggu proses penyelidikan lagi yang harus kita lakukan,” terangnya.

 

 

 

Kronologi Kasus Kematian Santri di Janapria

 

Nurhasanah saat ditemui media di kediamannya Dusun Juna, Desa Setuta, Kecamatan Janapria, Lombok Tengah tak henti menangis. Dia telah kehilangan putranya, Zakaria Abdillah berusia 14 tahun yang meninggal dunia diduga menjadi korban perundungan atau bullying di Pondok Pesantren Al Azhar, Dusun Sadah, Desa Janapria.

Baca Juga  Terapkan Kurikulum Merdeka, Ini Cara SMAN 1 Janapria

 

Meninggalnya anak bungsu dari tiga bersudara tersebut terjadi tak lama setelah ibunya korban datang menjenguk pada acara pelepasan santri baru, Minggu 3 Agustus 2025.

 

Terakhir kemarin hari Minggu dari pagi sampai jam 15.00 dan pas ashar kami kembali ke rumah dan kurang lebih jarak satu jam datang ustadz memberitahukan kalau dibawa ke Puskesmas,” katanya kepada media.

 

Sementara itu Zakaria telah berada di asrama ponpes sejak tiga minggu lalu. Kata Nurhasanah, tidak disebutkan oleh putra ketiganya itu ada temannya yang jahil atau nakal kepadanya. Sebaliknya justru mengatakan merasa betah di pondok.

 

Sementara itu, pihak Ponpes dirinya dikabarkan bahwa penyebab kematian anaknya karena mereka bercanda dengan rekan sesama di pondok. Tapi terlalu berlebihan sehingga anaknya terjatuh kemudian pingsan dan akhirnya dinyatakan meninggal dunia setelah dibawa ke Puskesmas Janapria.

 

Kendati demikian, pihak keluarga tak memperpanjang kasus ini ke jalur hukum. Nurhasanah merasa ikhlas dengan kejadian yang menimpa putranya tersebut.

 

“Dia mondok karena keinginan sendiri, ini sudah nasibnya sudah takdirnya,” katanya di lokasi sambil menangis.

 

Terpisah, Pimpinan Ponpes Al Azhar – Sadah, Lukmanul Hakim mengatakan bahwa latar belakang peristiwa tersebut akibat dua orang santri bercanda namun berlebihan sehingga terjadi pertengkaran. Hal ini menyebabkan salah seorang pingsan karena terjatuh setelah aksi saling dorong.

Baca Juga  Dukung TEMPO, Jurnalis di Mataram Gelar Aksi Solidaritas

 

“Cuma berdua saja santri ini di dalam kamar, yang satu orang si korban ini sedang melipat baju kemudian diganggu oleh temannya, terjadi saling balas dan akhirnya bertengkar,” ceritanya pimpinan Ponpes.

 

Sedangkan itu dalam insiden tersebut, kata Lukman, korban sempat terhempas ke tembok dan terjatuh namun dia tidak menjelaskan bagaimana pasti posisi korban. Apakah terkena pukulan atau lainnya.

 

Mengetahui kejadian ini, Lukmanul Hakim bergegas membawa santri ke Puskesmas Janapria namun setelah diperiksa oleh dokter santri tersebut telah meninggal dunia.

“Menjelang jam 5 sore kita bawa dan tak lama diperiksa dinyatakan meninggal dunia,” katanya.

 

Ditegaskan pimpinan Ponpes, kasus ini telah diselesaikan secara kekeluargaan setelah di mediasi oleh pihak Polsek Janapria dan Pemerintahan Desa Setuta.

Kejadian ini dianggapnya sebagai teguran keras oleh lembaga yang dipimpinnya, dia berjanji akan memberikan imbauan setiap memimpin salat berjamaah kepada semua santri untuk tidak ada kontak fisik apalagi kekerasan.

 

Sebelumnya, seluruh santri baru diajak belajar mondok selama tiga hari dua malam sebagai langkah orientasi dan pengenalan situasi ponpes. Termasuk sekaligus dikenalkan tata krama dan hal lainnya.

 

“Sehingga dari sekian santri ada yang memutuskan tidak jadi mondok dan ada yang memutuskan siap mondok, artinya langkah-langkah untuk saling menghargai, menyayangi dan menghormati telah kami bimbing sebelum menjadi santri kami, kedepan kita juga menjadikan hal itu catatan ke kami soal pengawasan di lingkungan pondok,” tutupnya.

Baca Juga  Wamenaker Sebut Tingkat Pengangguran di NTB 4,7 Persen

 

 

Kronologi Kasus Kematian Santri di Praya

 

 

Seorang santri SMP Islam di Kecamatan Praya berusia 12 tahun, inisial HM meninggal dunia setelah menjalani perawatan di rumah sakit. HM masuk rumah sakit setelah diduga mengalami kekerasan di dalam pondok.

 

Kakak misan HM, Hery menegaskan bahwa korban sempat dirawat di RSUD Praya selama empat hari tiga malam. Disebabkan kondisi memburuk HM kemudian dirujuk ke RSUD Provinsi NTB. Takdir berkata lain, nyawa HM tidak bisa tertolongkan.

Hery membenarkan terkait informasi yang tersebar di media sosial. Dimana korban HM mengalami kekerasan di dalam pondok yang diduga dilakukan sesama santri.

Pihak keluarga membantah bahwa korban memiliki riwayat penyakit yang diderita selama ini. Hery menegaskan bahwa korban sebelum masuk pondok dalam keadaan sehat dan tidak memiliki riwayat penyakit.

 

“Kalau ada riwayat penyakit ngapain dipondokin,” katanya tegas saat dikonfirmasi Koranlombok.id, Jumat 22 Agustus 2025.

 

Hery menceritakan, pada hari pertama dirawat di RSUD Praya, HM ini sempat sadar sebentar dan mengatakan bahwa dirinya sudah dipukul temannya.

“Hari pertama di bawa ke RS dia sadar sebebentar dia cuma bilang habis dipukuli,” cerita Hery.

 

“Secara jujur aja pak, mana bisa anak umur 12 bisa bohong,” sambungnya lagi.(hil/nis/red)

Tentang Penulis: Redaksi Koranlombok

Gambar Gravatar
Koranlombok media online dari Provinsi Nusa Tenggara Barat. Koranlombok selalu menayangkan berita Penting, Unik dan Menarik untuk dibaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.