LOMBOK – Dampak perang Iran dengan militer Amerika Serikat bersama Israel berdampak terhadap kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax. Selain itu, komoditas pangan di pasar Lombok Tengah juga ikut naik. Begitu juga dampak dari permintaan masyarakat tinggi jelang Hari Raya Idulfitri dan Hari Raya Nyepi.
Sekretaris Dinas Perindustrian dan Perdagangan Lombok Tengah, Raden Roro Sri Mulyaningsih mengatakan kenaikan harga BBM jenis Pertamax dari Rp 11.800 menjadi Rp 12.300 per liter turut mempengaruhi harga sejumlah kebutuhan pokok di pasaran.
“Beberapa komoditas seperti minyak goreng dan gula memang mengalami kenaikan, tetapi masih dalam kisaran Rp 500 ribu sampai Rp 1.000,” terangnya kepada Koranlombok.id via telepon, Selasa 10 Maret 2026.
Selain itu, beberapa komoditas lain seperti bawang merah dan bawang putih juga tercatat mengalami kenaikan harga sekitar Rp 5.000 dari harga sebelumnya.
Untuk cabai, kenaikannya dinilai tidak berkaitan langsung dengan kenaikan BBM. “Untuk kenaikan harga cabai berbeda, tidak terkait dengan BBM. Kemungkinan karena faktor masa tanam,” jelas Roro.
Roro menjelaskan, kenaikan harga sejumlah komoditas tidak hanya dipengaruhi oleh kenaikan BBM, tetapi juga oleh meningkatnya permintaan masyarakat menjelang hari raya.
Berdasarkan hasil pemantauan di pasar, harga minyak goreng sempat mencapai Rp 19 ribu hingga Rp 20 ribu per liter. Sejumlah pedagang menyebut kenaikan tersebut dipengaruhi oleh naiknya harga BBM akibat konflik di Timur Tengah.
Meski demikian, menurut Roro, kenaikan harga minyak goreng juga dipengaruhi faktor lain seperti kenaikan harga bahan kemasan.
“Memang benar minyak goreng naik sekitar Rp 1.000 karena harga plastik atau kemasan juga naik,” tuturnya.
Terkait ketersediaan BBM, pihaknya mengaku belum dapat memastikan apakah ke depan akan terjadi kelangkaan atau tidak. Hingga saat ini kondisi distribusi BBM masih terpantau aman.
Dia menambahkan, kenaikan harga komoditas pangan yang terjadi saat ini masih tergolong wajar, yakni berkisar antara 10 hingga 15 persen dari harga normal. Namun untuk komoditas cabai, kenaikannya dinilai cukup tinggi dan perlu diwaspadai.
“Kenaikan cabai cukup mengkhawatirkan karena bisa mencapai 50 persen dari HET dan berpotensi menjadi langka karena harganya belum turun,” bebernya.(hil)







