DPRD Minta Pemkab Loteng Serius Bidik Potensi Wilayah untuk Investasi dan Hilirisasi Komoditas

oleh -666 Dilihat
FOTO ANIS PRABOWO JURNALIS KORANLOMBOK.ID Ketua Fraksi PKS DPRD Lombok Tengah / H. Ahmad Supli

 

 

LOMBOK – Anggota Komisi II DPRD  Lombok Tengah, Ahmad Supli menyoroti banyak aset pemerintah kabupaten yang memiliki potensi namun belum bisa dimaksimalkan dan dibiarkan terbengkalai.

 

Di antaranya, lahan milik Pemda sekitar 14 hektare di wilayah selatan berupa tambak ikan dan garam, namun yang sudah bersertifikat baru 4 hektare dan sisa 10 hektare lainnya belum memiliki sertifikat.

 

Sementara itu, hilirisasi produk garam dan perikanan serta komoditas hasil laut lainnya perlu keseriusan Pemkab.

Baca Juga  Bawaslu Temukan 32 Kampanye Tanpa STTP, Jika Diulangi Bakal Dibubarkan

“Persoalan garam misalnya kalau serius mengapa tidak bisa, pasti bisa. Asalkan ada keseriusan dari Pemda,” yakinnya.

 

Untuk mengawal investasi di bidang itu, lahan – lahan yang telah dibeli lama bahkan sampai 20 tahun lalu oleh investor tapi tak kunjung dimanfaatkan dan enggan membayar pajak.

Soal ini Supli pernah meminta kepada Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) untuk diinventarisir karena dengan dibiarkan terbengkalai membuat daerah rugi dan hal tersebut perlu ditata lebih lanjut.

Baca Juga  Komisi IV Minta Pemkab Segera Carikan Solusi Polemik di Desa Beleka Daya

Supli mencontohkan kegiatan masyarakat Desa Karang Sidemen, Batukliang Utara yang bisa dikembangkan lebih lanjut yakni komoditas kopi.

 

Pemkab menurutnya jika serius menggarap potensi tersebut, bisa dilakukan dengan menjadikan lokasi itu sebagai wilayah khusus untuk pengembangan pertanian kopi mulai pembinaan dengan mengajak warga menanam kopi hingga proses produksi dan pengemasan serta sekaligus memberikan bantuan pemasaran.

 

“Jawaban investasi yang berpotensi bisa dilakukan ya keseriusan,” ucapnya.

Baca Juga  Rannya ‘Wakafkan’ Diri Maju di Pileg Dapil NTB

 

Menurut dia, Pemkab juga perlu memetakan setiap potensi setiap wilayah, jangan sampai seperti adanya pabrik tepung tapioka di Pancor Dao, Batukliang sementara bahan baku yang dibutuhkan yakni singkong karet masih belum tersedia di wiayah sekitar. Sedangkan yang baru jelas terlihat yakni peta potensi tembakau.

 

“Biar tertata, wilayah penghasil sayur di mana tempatnya, penghasil buah-buahan di mana tempatnya, supaya kita mandiri pangan,” tegasnya.(nis)

 

 

Tentang Penulis: Redaksi Koranlombok

Gambar Gravatar
Koranlombok media online dari Provinsi Nusa Tenggara Barat. Koranlombok selalu menayangkan berita Penting, Unik dan Menarik untuk dibaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.