LOMBOK – Ribuan warga Lombok Tengah mempertaruhkan nasib ke luar negeri. Apa karena lapangan pekerjaan sempit di Gumi Tastura?
Kepala Bidang Penempatan Kerja Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Lombok Tengah, Lalu Supiandi mengatakan pada bulan Januari sampai dengan Juli 2026 ini, pihaknya telah memberikan rekomendasi pemberian passport kepada 5.629 orang Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI). Dimana, 75 persen atau sebanyak 4.198 orang mengajukan sebagai CPMI ke Malaysia sebagai buruh di perkebunan sawit. Sementara itu, sisanya mengajukan permintaan passport untuk bekerja di sejumlah negara, Taiwan 373 orang, Singapura 526 orang, Hongkong 132 orang, Brunei 93 orang, Turkiye 98 orang, Arab Saudi 88 orang, Jepang 26 orang dan Uni Emirates Arab 16 orang.
“Biasanya kita setiap tahunnya angka 10 ribu, dan untuk tahun ini Juli tidak terlalu jauh dengan tahun sebelumnya,” ungkapnya saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis 30 Juli 2026.
Katanya, alasan Malaysia masih menjadi tujuan paling banyak para CPMI karena tenaga kerja yang dibutuhkan kemampuan fisik, dari data tingkat pendidikan yang dibutuhkan setara SMP ke bawah sehingga menjadi negara pilihan tujuan mereka untuk bekerja.
“Ini masih didominasi laki – laki karena kebanyakan akan bekerja di sektor perkebunan kelapa sawit, ini semua resmi dengan pola pemberangkatanya melalui private to private atau perusahaan swasta dengan perusahaan yang ada di negara tujuan mereka,” katanya.
Sementara itu, PMI saat bekerja di luar negeri dikatakan sebagai pahlawan devisa dikarenakan setiap uang hasil kerja mereka yang dikirimkan ke keluarga menggerakan perekonomian daerah, negara melalui remitansi dan nilai tukar mata uang.
Sedangkan soal jasa para PMI, pemerintah juga memberikan kepada mereka perlindungan dan kepastian hukum kepada mereka melalui program reintegrasi yakni pendampingan oleh BP2MI kepada PMI yang mengalami kekerasan fisik ataupun psikis selama bekerja.
Disnakertrans juga memberikan pemerdayaan dan pelatihan kepada CPMI melalui Balai Latihan Kerja (BLK), namun lebih lanjut dirinya setuju jika PMI yang sudah pulang atau pada keluarga diberikan pelatihan karena jasa mereka sebagai pahlawan devisa.
Ditambahkan dia, terkait jumlah lapangan kerja yang dicetak agar PMI yang telah pulang tak menganggur atau terus-terusan bekerja di luar negeri tak lepas dari keahlian dan kompetensi yang dimiliki. Kabid mempersilakan masyarakat tak hanya CPMI untuk berlatih di lembaga pelatihan yang ada ataupun di BLK agar mendapatkan keahlian sesuai dengan kriteria lapangan kerja yang ingin diperoleh.(nis)







