Cerita Ayah Esco Sebelum Ditemukan Putranya Tewas

oleh -1687 Dilihat
FOTO HILMI JURNALIS KORANLOMBOK.ID / Ayah almarhum Esco Faska Rely : Samsul Herawadi

 

 

LOMBOK – Ayah almarhum Esco Faska Rely, Samsul Herawadi akhirnya bicara di balik kasus kematian putranya yang merupakan anggota Intel Polsek Sekotong, Lombok Barat.

Dengan tegas Samsul memastikan jika putranya bukan bunuh atau gantung diri. Dirinya yakin jika anak pertamanya ini dibunuh dengan cara kejam oleh pelaku.

“Saya awalnya tidak siap melihat langsung kondisi anak saya, tapi hati kecil saya bilang itu anak saya. Saya tidak sanggup melihat, dalam kasus ini saya atau kami keluarga memastikan Esco dibunuh,” tegasnya dalam podcast dengan jurnalis Koranlombok.id.

 

Dikutip dari isi podcast di youtube Koranlombok. Samsul menceritakan, pihaknya mengetahui putranya meninggal dunia melalui media sosial, setelah beberapa hari putus kontak.

“Dari hati kecil saya terkadang berpikiran negatif, tidak menyangka kejadiannya seperti ini. Hilangnya kontak anak saya mungkin akibat tugas, galut apalah gitu, makanya matikan HP. Tiang tidak terlalu berprasangka akan terjadi seperti ini. Sampai istrinya juga selalu chat menanyakan ke saya,” ungkapnya, Rabu (28/8/2025)

 

VIDEO WAWANCARA :

 

 

Lanjut ceritanya, sebelum putus kontak dirinya bersama ibunya Esco sempat berkunjung menjenguk cucu di Lembar, Lombok Barat. sebab, ia mendapat kabar dari adik almarhum bahwa Esco sakit dan tidak bisa pulang ke rumah orangtuanya di Desa Bonjeruk, Lombok Tengah.

Baca Juga  Anggota Komisioner KPID NTB Nyaleg?

Samsul mengaku kaget saat mengetahui kabar penemuan jenazah Esco yang viral di media sosial. Awalnya tidak berani melihat, namun setelah memastikan kondisi jenazah dia menegaskan bahwa kematian anaknya bukan bunuh diri.

 

“Akhirnya jenazah sudah masuk rumah sakit, dan malam itu saya berusaha untuk izin melihat kondisi. Tapi pihak rumah sakit tidak mengizinkan, dan akhirnya kita menunggu serta berdoa sampai pagi karena jadwal otopsi jam 9 pagi,” ceritanya.

 

 

Menjelang otopsi, Samsul sempat disarankan untuk tidak melihat kondisi jenazah karena dikhawatirkan tidak kuat. Namun ia bersikeras.

“Dalam hati kecil saya berpikir apapun dampak terpuruk pada diri saya, ini anak saya, apapun yang terjadi akan saya terima,” katanya.

 

Kata Samsul, kapolsek sempat bertanya kepadanya siap atau tidak melihat jenazah Esco. Samsul menjawab siap, lalu diizinkan masuk.

“Saya membuka pintu sambil mengucap bismillah, tapi spontan kaget sampai dalam hati kecil saya berkata bahwa ini bukan anak saya. Karena mukanya sudah tidak ada, tengkorak semua, rambut sudah hitam,” bebernya.

Baca Juga  Siswa Belajar di Pinggir Jalan, Segel SDN 1 Jangkih Jawa Dibuka

 

“Badan bengkak, seluruh tubuh hitam, serta rambut gosong,” sambungnya dengan nada sedih.

 

Lanjutnya, sebelum putus kontak, Esco sempat bercerita kepada adiknya bahwa sedang sakit dan meminta agar orangtua tidak diberitahu. Namun adiknya diam-diam menceritakan hal tersebut kepada ibunya marah dan mendesak kepada ayah Esco untuk secepatnya melihat kondisi putranya.

 

Kontak terakhir terjadi pada Senin. Namun pada Selasa malam sekitar pukul 17.00–18.00, istrinya menghubungi Samsul karena Esco tidak pulang. Saat itu dia menduga anaknya hanya piket.

“Tapi istrinya bilang dia kurang sehat dan mau izin. Saya bilang nanti juga pulang. Namun istrinya bilang mau ngecek ke kantornya Esco. Saya cegah karena kantornya jauh, Sekotong–Lembar. Tapi selang beberapa menit istrinya sudah sampai di kantor. Kata teman piket, Esco lagi keluar, saya kaget,” ceritanya.

 

Sejak Selasa malam, HP almarhum sudah tidak bisa dihubungi. “Saya juga sambil chat dan telepon beberapa kali tapi tidak ada balasan. Cuma dalam hati kecil saya berkata kenapa anak saya merahasiakan keberadaannya. Saya berpikir mungkin dia lagi kalut, jadi saya tidak mau berpikir negatif. Pikiran saya aman karena motor dan sepatu sudah ada di rumah,” kata Samsul.

Baca Juga  Jembatan Penghubung Tiga Kabupaten di Desa Aik Bual Ambruk

 

Kendati motor ada di depan rumah, namun Esco tidak pernah ada di dalam rumah, kata istrinya. Samsul berkeyakinan Esco baik-baik saja dan memperkirakan sedang bermain di rumah teman atau tetangganya.

“Pas saya baca berita acara penyidik, di dalamnya berisi perencanaan pembunuhan yang disebabkan adanya luka. Tapi saya membantah jika luka hanya sekadar goresan. Ini kulitnya hilang sampai tengkorak kelihatan,” tegasnya.

 

Atas kasus kematian Esco, sang ayah berharap pelaku dihukum mati. “Walaupun pelakunya anggota kepolisian maupun keluarga, kami siap menyerahkan untuk dihukum mati. Kami mohon ketegasan dari penegakan hukum sesuai keinginan kami. Jadi kalau harapan kami tidak terpenuhi, kami dari pihak keluarga akan bertindak untuk menyelesaikan sendiri,” ancamnya.(hil)

 

Tentang Penulis: Redaksi Koranlombok

Gambar Gravatar
Koranlombok media online dari Provinsi Nusa Tenggara Barat. Koranlombok selalu menayangkan berita Penting, Unik dan Menarik untuk dibaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.