LOMBOK – Konflik di Timur Tengah berdampak terhadap sektor pariwisata di Kabupaten Lombok Tengah. Terutama di kawasan Mandalika. Okupansi hotel di kawasan super prioritas ini mengalami penurunan drastis dalam dua pekan terakhir.
Ketua Mandalika Hotel Association (MHA), Samsul Bahri mengungkapkan dampak konflik mulai terasa sejak awal perang terjadi dan sampai sekarang memasuki hari ke-9 konflik. Kata Samsul, pada minggu pertama banyak wisatawan mancanegara menunda perjalanan mereka ke Lombok.
“Memang pada minggu pertama banyak tiket tamu kami wisatawan mancanegara yang ditangguhkan. Sebagian besar merupakan tamu dari Eropa yang berencana berkunjung ke Lombok, khususnya kawasan Mandalika,” cerita Samsul Bahri kepada Koranlombok.id via ponsel, Selasa 10 Maret 2026.
Samsul menjelaskan, seiring berlanjutnya konflik kondisi hotel-hotel di kawasan Mandalika semakin terpuruk. Memasuki minggu kedua konflik, dampak penurunan okupansi semakin terasa karena banyak wisatawan membatalkan atau menunda perjalanan.
Menurut dia, segmen pasar utama hotel di Mandalika didominasi wisatawan asing terutama dari Eropa yang biasanya transit melalui bandara di kawasan Timur Tengah. Namun kondisi yang belum kondusif di wilayah tersebut membuat banyak penerbangan dibatalkan, sehingga berdampak langsung terhadap kunjungan wisatawan ke Lombok.
“Market kami kebanyakan wisatawan Eropa yang transit di bandara Timur Tengah. Sekarang banyak yang membatalkan penerbangan ke Lombok. Hal ini sangat berdampak pada okupansi hotel,” ungkapnya.
Samsul menyebutkan, penurunan tingkat hunian hotel saat ini cukup signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pada tahun sebelumnya, okupansi hotel di kawasan Mandalika bisa mencapai 50 hingga 60 persen, sementara saat ini hanya berada dikisaran 25 hingga 30 persen.
“Padahal sebelumnya kami cukup optimistis pada bulan Maret ini okupansi bisa mencapai 60 hingga 70 persen,” katanya.
Selain konflik, beberapa faktor lain juga mempengaruhi rendahnya tingkat hunian hotel. Di antaranya momentum bulan Ramadan yang biasanya membuat wisatawan domestik menunda perjalanan wisata.
Sementara sejumlah platform pemesanan perjalanan daring atau online travel agent (OTA) telah memberikan peringatan kepada pemilik hotel terkait situasi konflik tersebut. Dalam peringatan itu, pihak hotel diminta untuk lebih fleksibel terhadap kebijakan pembatalan atau perubahan jadwal oleh tamu.
“Kami pihak hotel diminta lebih fleksibel karena kondisi seperti ini,” bebernya.
Samsul menambahkan, penurunan okupansi paling terasa pada hari ke-6 hingga hari ke-7 sejak konflik terjadi. Saat itu, jumlah tamu yang datang sangat sedikit, sementara tamu yang melakukan check-out cukup banyak.
Dampak konflik juga dirasakan pada sektor investasi pariwisata di kawasan Mandalika. Menurut Samsul, sejumlah investor mulai menahan diri untuk menanamkan modal atau melanjutkan rencana investasi karena kondisi global yang belum stabil.
“Para investor saat ini cenderung menunggu dan tidak berani berspekulasi terlalu cepat karena kondisi yang belum pasti,” sebutnya.
Samsul menambahkan, apabila situasi ini terus berlanjut dan belum kembali kondusif, tidak menutup kemungkinan pelaku industri perhotelan akan mengambil langkah efisiensi. Termasuk pengurangan jam kerja hingga potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawan.(hil)





