Masyarakat masih memegang adat istiadat peninggalan Raja Tempit. Mereka memelihara Makam Demung Patriaji hingga menjaga peninggalan bersejarah kerajaan Tempit.
Tradisi Nyelametan Dowong merupakan event budaya masyarakat Desa Denggen, Kecamatan Selong, Lombok Timur yang digelar sekali setahun. Tradisi yang digelar pada bulan Sya’ban tersebut diceritakan merupakan peninggalan dari leluhur warga Denggen yang silsilahnya sampai kepada Raja Tempit, Lombok Tengah. Nyelametan dowong sendiri sebagai salah satu cara untuk menjaga agar tanaman padi masyarakat terhindar dari hama dan penyakit sehingga bisa memberikan hasil panen yang melimpah.
Tokoh masyarakat Denggen, H. Lalu Selamet menceritakan jika prosesi nyelametan dowong dilakukan dengan berbagai ritual khusus sebagai sarana mencari rido dan rahmat dari sang maha pencipta. Dimana tiga hari sebelum pelaksanaannya warga mengawalinya dengan membersihkan makam leluhur mereka yaitu makam lendang maronge yang di laksanakan pada hari jumat. Kemudian prosesi berikutnya yakni pengambilan air di sumber mata air mertak sari di desa setempat yang nantinya di diamkan hingga hari pelaksanaan galeng rarak kembang waru (hari puncak nyelametan dowong) yang di gelar pada hari senin. Sebelum puncak acara, masyarakat juga menlakukan ritual penyembelihan ayam di lokasi makam, dimana darah ayam tersebut di tempatkan pada satu tempat yang nantinya juga sebagai syarat yang di bawah warga untuk di taruh di tanaman padi mereka.
“Pelaksanaan Galeng rarak kembang waru selalu hari senin, mengapa demikian karena ini mengambil dari hari lahir rasulullah Saw,” ceritanya.
Pada cara puncak nyelamten dowong tersebut, warga menyiapkan makanan menggunakan dulang tinggi dari rumah masing- masing untuk di bawa ke makam. Kemudian setelah prosesi zikir dan doa dimakam tersebut warga kemudian secara bersama- sama dihidangkan makanan tersebut.
“Selalu ramai, karena warga ada yang mengambil air dan daun bambu yang berbalur darah ayam untuk di bawa ke sawah mereka, harapanya darah itu akan mengusih penyakit dan hama karena bau amisnya,” sebutnya.
Kegiatan budaya ini sebutnya merupakan tradisi leluhur warga Denggen sejak lama. Dimana tradisi ini dilaksanakan oleh Demung Patriaji selaku pemimpin masyarakat Denggen pada masa itu.
Demung Patriaji sendiri merupakan keturunan dari Raja Tempit Lombok Tengah, namun karena adanya serangan dari Raja Banjar Getas yang dibantu Raja Bali yang diperkirakan terjadi pada abad ke- 16 M, sehingga kedua demung tempit mengungsi salah satunya ke Denggen Kabupaten Lombok Timur.
“Satunya ke Mataram, sehingga ada tempit ampenen, demung Patriaji yang ke Lombok Timur,” jelasnya.
Demung Patriaji sebutnya membawa dua buah peningalan saat mengungsi yakni berupa al- quran besar yang di tulis tangan dan gong kecil. kedua benda peninggalan sejara tersebut saat ini masih di jaga oleh tokoh masyarakat Denggen.
Pada masanya, Raja Tempit terkenal dengan raja yang sakti mantraguna, namun dalam penaklukannya sang raja disebutnya menyebutkan kelemahannya sehingga dengan mudah musuhnya menguasai wilayah kerjaan Tempit.
“Itu yang menyebabkan adanya istilah blok tempit artinya mereka memberitahukan sendiri kelemahannya,” katanya.
Dengan ditaklukannya kerjaan tempit, Demung Pariaji mengasingkan diri ke Lombok Timur hingga dia dimakamkan di makam Lendang Maronge, Kelurahan Denggan, Kabupatenn Lombok Timur.(fen)





