LOMBOK – Kepala Dinas Pertanian Lombok Tengah Kamrin mengklaim, 3 ribu hektare luas lahan padi sedang proses panen dari total 52 ribu hektare.
Kamrin menyampaikan panen ini sudah mulai di Kecamatan Batukliang Utara, Kopang, sebagian Kecamatan Praya Tengah dan Praya Barat.
“Habis puasa baru akan 50 persen lebih panen, stabil sudah, jadi beras kita sudah aman,” tegasnya kepada media, Senin (18/3/2024).
Sementara itu harga beras di pasar juga diklaim sudah turun, dari angka Rp 18 ribu per kilogram (kg) saat ini menjadi Rp 15 ribu. Terkait itu dirinya memastikan harga beras akan turun karena dampak panen.
Ditegaskan dia, sedangkan masalah pengendalian harga dan tata niaga gabah dan beras itu bukan merupakan wewenang dinas yang ia pimpin. Itu wewenang Dinas Perindustrian dan Perdagangan, kemudian Dinas Ketahanan Pangan dan Badan Urusan Logistik, sedangkan Dinas Pertanian hanya bertanggung jawab melakukan produksi pangan.
“Kadang ketika gabah kurang dikira Pertanian yang kurang produksinya padahal kita surplus, tahun kemarin kita dapat penghargaan sebagai lumbung pangan nasional, kita berkontribusi paling besar di NTB,” ungkap dia.
Kamrin menambahkan, kendati musim tanam terpaksa mundur karena adanya El-Nino dan seiring dengan masifnya alih fungsi lahan yang disebabkan wilayah pertanian menyempit. Dinas Pertanian justru menargetkan hasil panen padi Lombok Tengah meningkat 10 persen daripada tahun 2023. Tahun lalu produksi gabah 550 ribu ton gabah kering yang menghasilkan 350 ribu ton beras.
“Target ini untuk memacu kinerja kita di lapangan sebenarnya,” tegasnya lagi.
“Kan ada penerapan teknologi baru, bagaimana pengelolaan lahan lebih produktif. Kan itu yang harus kita terapkan di masyarakat,” sambungnya.(nis)





