LOMBOK – 24 Juni 1896 Mamiq Ocet Thalib dan Haji Ali Dewa dari Praya mengirim surat pernyataan perang kepada Kontroler Belanda dan memimpin pemberontakan gerilya.
Dimana pemberontakan ini dipicu pemaksaan pajak dari rakyat, padahal belum lama rakyat terbebas dari kemelut perang dengan Matraam. Ditambah ada kekecewaan atas sikap Belanda yang tidak menepati janji seperti yang dituntut para pemuka Sasak sebagai syarat mereka mau tunduk kepada Belanda (Surat diplomatik 30 Oktober 1892).
Sementara perlawanan itu Pemerintah Hindia Belanda mengirim 100 perwira dan prajurit untuk menghadapi perlawanan ini dan ditambahkan lagi ternyata pemberontak tidak mudah ditaklukkan. Sedangkan posisi-posisi Belanda yang seringkali terdesak.
Disamping itu, pemberontakan ini berlangsung hampir 3 bulan yang mengakibatkan korban dikedua belah pihak dan seratusan orang ditangkap.
Lanjut cerita, tanggal 7 September 1896 dalam suatu serangan mendadak Mamiq Ocet Thalib dan 12 pasukannya gugur diikuti penyerahan sementara H. Ali Dewa dan 85 pasukan pemberontak.
Di balik itu, ada tekanan pajak tanggal 28 September 1896 masyarakat Desa Gandor dipimpin R.Wirasasih dan Mq. Mustiasih-Red, Apitaik dan Teros melakukan pemberontakan umum. Mereka menyerang pusat kekuasaan Belanda Lombok Timur di Sisik (Sisik/Labuan Haji merupakan Ibukota Onder afdeeling Lombok Timur saat itu).
Esoknya, 75 perwira dan prajurit kaveleri Belanda dikerahkan menghadapi pemberontakan itu mengakibatkan 30 pemberontak gugur. Tidak sampai disitu, 125 prajurit dan perwira angkatan laut didaratkan dan bersama kaveleri dan polisi berjumlah 250 orang bergerak ke Gandor membumihanguskan desa itu dan meratakan dengan tanah.
Nasib yang sama dialami Desa Apitaik, 25 pemimpin pemberontak ditangkap juga.
Awal Januari 1897, Lalu Badil salah seorang dari pemimpin pemberontak itu melarikan dari penjara Belanda di Sisik. Cara ini dilakukan menghindari kejaran Belanda, ia bersama 30 pasukannya menyingkir hutan wilayah Praya.
Sedangkan tanggal 30 Agustus 1897, Badil menyerang penjara Praya dan berhasil membebaskan para tahanan yang segera bergabung menjadi pasukannya. Kini pasukan itu berkekuatan 100-120 orang. Pasukan ini kemudian melakukan serangan terhadap kepentingan Belanda.
Selanjutnya, tanggal 7 September pasukan L. Badil bertempur dengan AD Belanda berkekuatan 150 perwira dan prajurit. Badil dan 20 orang pasukannya gugur sedang dipihak Belanda 3 orang terbunuh. Sisa pasukan Badil yang berjumlah sekitar 90 orang bergabung dengan H. Ali Dewa yang kembali ke medan gerilya. Pertempuran-pertempuran sporadis pun berlangsung hebat.
Tanggal 18 Oktober 1897 pertempuran yang menentukan pecah. Pada hari itu H. Ali Dewa dan 15 pasukannya tumbang.
“Jadi kisah cerita ini kita ambil dari buku Lombok Penaklukan, Penjajahan dan Keterbelakangan 1870-1940. Buku ini merupakan karya Alvons Van Der Kraan,” cerita Tokoh Budayawan NTB Lalu Satria Wangsa kepada jurnalis Koranlombok.id, Senin (19/8/2024).
Ditambahkan Satria Wangsa, pemberontakan Gandor menyebababkan dipecahnya Onder afdeeling Oost Lombok atau Lombok Timur menjadi dua yaitu, Lombok Timur dan Lombok Tengah. termasuk ibu kota Lombok Timur dipindah dari Sisik ke Selong dan Lombok Tengah ditetapkan di Praya.(red)





