LOMBOK – Anggota DPRD Lombok Tengah, H. Ahmad Supli meminta kepada pemerintah kabupaten mengkaji ulang desain Pasar Renteng, Praya. Hal ini disampaikan Supli merespons penolakan puluhan pedagang Pasar Renteng untuk berjualan di lantai dua pasar.
Kepada jurnalis koranlombok.id, politikus PKS ini mengaku setuju dengan penolakan oleh pedagang. Katanya, dari awal ia telah mengingatkan pemerintah kabupaten soal desain pasar yang tidak representatif.
Oleh karena itu, menurut dia, Pasar Renteng perlu dikaji oleh Pemkab secara komperhensif. Apa saja kebutuhan para pembeli, begitu pula dengan kebutuhan para pedagang. Terutama solusi sepinya lantai dua di pasar tersebut.
“Saya sih dari dahulu sudah katakan perlu dikaji ulang desain Pasar Renteng, desain Pasar Renteng itu kan dibuat tidak berdasarkan kebutuhan masyarakat yang berdagang dan pembeli. Jadi tidak diajak masyarakat bicara,” tegasnya via telepon, Senin (28/7/2025).
Dikatakan Supli, Pasar Renteng dan pasar lainnya dengan desain bertingkat cenderung sepi peminat. Dia mencontohkan seperti di Pasar ACC di Mataram dan Pasar lama Cakra yang juga punya desain serupa, tapi saat ini di lantai dua cenderung sepi.
Sehingga menurutnya, tidak bisa dipaksa pedagang untuk dipindahkan ke lantai atas akan bermasalah bagi pedagang. Bisa jadi biaya operasional mereka lebih besar daripada keuntungan yang didapatkan mengingat pembeli enggan naik belanja ke lantai atas.
Kondisi tersebut ia bandingkan dengan Pasar Jelojok, Kopang yang hanya satu lantai tapi sangat ramai dan nyaman dikunjungi masyarakat sekitar Lombok Tengah.
“Kebutuhan pedagang adalah bagaimana dagangannya dibeli kan begitu, kalau sekarang masyarakat pedagang harus menempati posisi yang di atas siapa yang mau dibeli. Ini persoalan desain Pasar Renteng kita terima begitu saja tanpa meminta pendapat masyarakat begitu kan, kita bangung sebegitu megah tapi tidak sealur dengan kebutuhan pedagang dan pembeli,” sentilnya tegas.(nis)






