Disperindag Sangkal Pabrik Tapioka di Aik Dareq Beralih Fungsi

oleh -1400 Dilihat
FOTO HILMI JURNALIS KORANLOMBOK.ID / Sekretaris Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Lombok Tengah Raden Roro Sri Mulyaningsih saat memberikan keterangan kepada media.

 

 

 

LOMBOK – Sekretaris Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Lombok Tengah, Raden Roro Sri Mulyaningsih menepis kabar pabrik tapioka di Desa Aik Dareq, Kecamatan Batukliang mangkrak. Sebelumnya, anggota Komisi I DPRD pernah menyentil keberadaan pabrik tersebut.

“Saya jamin masih beroperasi, dan kemiri ini hanya menumpang di sana,” tegasnya saat memberikan klarifikasi Rabu, 27 Agustus 2025.

Dikatakan Roro, untuk kemiri yang ditemukan di lokasi pabrik itu bakal diekspor. Dalam temuan itu, pihaknya sebagai pemerintah hanya memfasilitasi masyarakat tempat saja.

Dia mengklaim untuk sentra tapioka tetap berproduksi tapi skala kecil. Sebab, bahan baku untuk tapioka berupa singkong sekarang harganya tengah naik harganya.

Baca Juga  Dilarang Tangkap Ikan di Teluk Awang, Nelayan Ketapangraya Balas dengan Lakukan Sweeping

“Kalo kita mau jual dengan harga 12 per kg, kolaps kita. Karena harga 4 ribu harga bahan singkong itu,” tegasnya kepada media di kantornya, Rabu, 27 Agustus 2025.

 

Dijelaskan Roro, untuk jenis kualitas yang dibutuhkan untuk tepung tapioka itu masih terbatas karena masyarakat tidak mau menanam di sawah. Mereka lebih memilih menanam padi karena lebih cepat dapat uang, dan masa panen singkong untuk tapioka ini agak lama dibanding padi.

 

Roro mengatakan, untuk sekarang pihaknya menjalin kemitraan dengan PPL dan Dinas Pertanian. Dinas Pertanian sedang mensosialisasikan lahan-lahan yang layak ditanami singkong itu dan akan diberikan bibitnya oleh Dinas Pertanian.

Baca Juga  Polisi ‘Panen’ Pelaku Pencurian di Lombok Timur, 103 Tersangka Diborgol

“Kemarin sudah berjalan dan sekarang ada lagi,” klaimnya.

 

Diceritakan Roro, pihaknya membutuhkan 450 kg bahan baku dan akan menjadikan 1.500 kg tepung per hari. Akan tetapi tidak sampai segitu, sehingga penjual bakso yang sudah bermitra akhirnya mengambil tapioka di tempat lain.

“Artinya sekarang untuk proses pembuatan tepung masih beroperasi, tapi tidak banyak,” ungkapnya.

 

Untuk produksi sekarang sedikit, sekitar 100 kg per hari. Sebab, bahan bakunya yang terbatas. Ada juga yang datang dari Lombok Utara yang menjual, akan tetapi tetap tidak mencukupi produksi di sana.

Baca Juga  Komisi IV Buka Aduan Wali Murid Terkait Pungli Berkedok Uang Perpisahan

“Kenapa produksi tidak banyak karena mesin yang digunakan ini hasilnya tidak terlalu halus,” dalihnya.

 

Terakhir, jika kita membeli bahan baku dengan harga yang mahal pastinya kolaps. Sehingga dari hal tersebut Kementerian Perindustrian menyarankan kita untuk membuat tepung tapioka yang premium yang bernama mocaf.

 

“Jadi kenapa Kementerian Perindustrian itu mendidik Lombok Tengah untuk menjadi pabrik tepung tapioka yang bisa mensuplai sampai luar daerah, karena di Jawa Timur itu sudah tidak mampu menampung permintaan pembeli terhadap tepung tapioka,” pungkasnya.(hil)

 

Tentang Penulis: Redaksi Koranlombok

Gambar Gravatar
Koranlombok media online dari Provinsi Nusa Tenggara Barat. Koranlombok selalu menayangkan berita Penting, Unik dan Menarik untuk dibaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.