Komisi IV Minta Pemkab Segera Carikan Solusi Polemik di Desa Beleka Daya

oleh -609 Dilihat

 

 

LOMBOK – Wakil Ketua Komisi IV DPRD Lombok Tengah Wirman Hamzani menanggapi penolakan merger dua SD di Desa Beleka Daya, Kecamatan Praya Timur.

Pada Senin 22 September 2025. Warga Desa Beleka Daya melakukan hearing ke Kantor DPRD Lombok Tengah. Warga menyampaikan aspirasi terhadap penolakan merger atau penggabungan SDN Berangah dengan SDN Beleka.

Wirman Hamzani meminta Pemkab agar segera memberikan jawaban terhadap aspirasi masyarakat ini.

“Saya harap ini segera bisa diatasi oleh Pemda,” kata Hamzan sapaan akrabnya.

Sekda Lombok Tengah, Lalu Firman Wijaya yang menerima kedatangan warga menyampaikan, soal penyelsaian masalah ini pihaknya perlu melakukan kajian secara mendalam sebelum melakukan relokasi SDN Berangah.

Baca Juga  Soroti Sampah, Dewan Nasib Minta jadi Perhatian Khusus

 

“Kami butuh pendalaman soal dampak banjir, kemudian  agaimana jika relokasi ke lahan eks Pasar Beleka dan perlu dihitung jaraknya hanya 500 meter apakah akan bertambah atau bagaimana. Mau diapakan aset SDN Berangah setelah direlokasi. Tolong kami minta waktu untuk sebagai dasar kajian mendalam mengambil keputusuan,”  tegasnya.

 

Sekda meminta agar nantinya bisa melakukan diskusi secara intens dengan masyarakat dalam Forum Group Discussion (FGD).

“Nanti kami berdiksuksi dengan intens untuk menalaah alternatif paling baik, ini agar sejalan dengan pekayunan pelungguh sami. Nanti kita simpulkan dalam rekomendasi,” kata Firman.

Baca Juga  Pelantikan PAW Dono Kasino Indro Menunggu SK Gubernur

 

Dalam hearing, Kepala Desa Beleka Daya, Senang Haris mengungkapkan permasalahan tersebut menyebabkan persaingan yang tidak sehat antar sekolah dalam memperoleh siswa.

 

Selain itu saat musyawarah desa, kata Kades, salah seorang tokoh guru mengungkapkan jika sering terjadi perkelahian antar siswa.

Selain itu, kondisi SDN Berangah juga memprihatinkan dan kerap mengalami banjir ketika musim penghujan datang.

 

“Sejak tahun 1980, terjadi persaingan yang sangat tidak sehat, sampai tawuran. Sampai ada istilah kanak lauk dan kanak daye, ampure karena kedatangan kami adalah bentuk kepedulian pendidikan di desa kami, murni kepentingan masyarakat,” tegas Kades dalam hearing.

Baca Juga  Rabu Besok Pagi Pimpinan Definitif DPRD Loteng Dilantik

 

Dibeberkan Kades, solusi sementara ditawarkan oleh Pemda wacana merger antara dua sekolah tersebut tidak akan jalan. Sebab, masyarakat menolak wacana tersebut dan masyarakat menginginkan direlokasi ke lahan milik Pemda.

 

“Oleh karena itu kepada Pak Sekda semoga dapat memberikan solusi yang terbaik, kami ingin generasi kami menjadi generasi yang bersih, mampu dan pintar dan berguna bagi bangsa dan agama,” katanya.(nis)

 

 

Tentang Penulis: Redaksi Koranlombok

Gambar Gravatar
Koranlombok media online dari Provinsi Nusa Tenggara Barat. Koranlombok selalu menayangkan berita Penting, Unik dan Menarik untuk dibaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.