LOMBOK — Banjir menerjang tiga desa di Kabupaten Lombok Tengah. Di antaranya, Desa Torok Aik Belek, Desa Kabul, Kecamatan Praya Barat Daya dan Desa Montong Ajan, Kecamatan Praya Barat. Sedikitnya 300 kepala keluarga (KK) terdampak banjir akibat hujan deras yang mengguyur wilayah ini dari sore hingga malam hari.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lombok Tengah, Ridwan Ma’ruf menyampaikan bahwa berdasarkan data sementara hingga Pukul 00.00 WITA jumlah warga terdampak tercatat sebanyak 50 KK di Desa Torok Aik Belek, 250 KK di Desa Kabul khususnya di Dusun Kending Sampi, menjadi wilayah dengan dampak paling parah.
“Tim kami turun ke lokasi sekitar pukul 20.00 WITA dan kembali sekitar pukul 00.00 WITA. Saat ini kami juga sedang melakukan penyaluran logistik kepada warga terdampak,” ungkapnya kepada media, Rabu 14 Januari 2025.
Ridwan menjelaskan, banjir dipicu oleh curah hujan yang cukup tinggi dan diperparah oleh kondisi sungai yang mengalami pendangkalan. Selain itu, kerusakan lingkungan di wilayah hulu turut berkontribusi besar terhadap terjadinya banjir.
“Pada musim kemarau, masih terjadi penggundulan bukit dan pembukaan lahan. Saat hujan turun air membawa lumpur, tanah, dan sisa material kayu yang akhirnya menyumbat aliran sungai dan menyebabkan luapan,” ceritanya.
Dia menambahkan, kondisi banjir saat ini mulai berangsur surut, meski di beberapa titik masih terdapat genangan air. BPBD bersama instansi terkait akan kembali turun ke lapangan untuk melakukan asesmen lanjutan serta upaya normalisasi sungai.
“Untuk saat ini kondisi sudah mulai surut, namun kami tetap akan melakukan asesmen lanjutan. Penanganan di wilayah hulu menjadi hal yang sangat penting agar kejadian ini tidak terus berulang,” tegas Gabus panggilan akrabnya.
Terkait prakiraan cuaca, Ridwan mengungkapkan pihaknya telah berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Berdasarkan informasi yang diterima, intensitas hujan diperkirakan masih akan berlangsung hingga Maret dengan curah hujan cukup tinggi dan disertai angin kencang.
“Fenomena hidrometeorologi seperti banjir, angin kencang, longsor, dan kekeringan saat ini sedang kita hadapi. Siklusnya bisa terjadi setiap tiga hingga lima tahun dan kali ini intensitasnya lebih tinggi dari biasanya,” bebernya.
Ridwan memastikan tidak ada korban jiwa maupun warga yang harus mengungsi akibat kejadian tersebut. Hingga saat ini juga belum ada laporan kerusakan fasilitas umum, sementara kerugian materi masih dalam pendataan.
“Kami belum bisa memastikan besaran kerugian,” pungkasnya.
Sementara itu, Wakil Bupati Lombok Tengah, H. M. Nursiah, mengatakan sumber banjir berasal dari sungai dan saluran yang setiap tahun kerap meluap.
“Kita pelajari dulu berdasarkan data sebelumnya, dan rata-rata persoalannya adalah sedimentasi,” kata Politisi Golkar itu kepada media, Rabu 14 Januari 2025.
Adapun kaitannya dengan kondisi hulu hingga hilir yang mengakibatkan banjir, menurutnya memang dibutuhkan kerja sama dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) untuk merencanakan penanganannya sesuai dengan kebijakan dan kewenangan masing-masing.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak membuang sampah ke sungai.
“Oleh karena itu, sosialisasi sangat penting untuk menyadarkan masyarakat akan dampak serta antisipasi dalam menghadapi bencana tersebut.”
Terkait upaya pencegahan, Wakil Bupati menegaskan bahwa untuk saat ini hal yang penting dilakukan adalah berkoordinasi dengan pihak BWS terkait langkah-langkah pencegahan.(hil)






