LOMBOK – Hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) memberikan catatan dan temuan pada proyek revitalisasi SMP Negeri 3 Pujut, Lombok Tengah yang menghabiskan anggaran Rp 4.143.000.000 tahun 2025.
“Dalam audit BPK memang ada catatan dan temuan, tetapi itu masih dalam proses. Akhir nanti akan direkap seluruhnya. Ini bagian dari uji petik sebelum proyek benar-benar dinyatakan selesai,” ungkap konsultan pengawas proyek, Mawardi saat dikonfirmasi Koranlombok.id, Rabu 21 Januari 2026.
Namun Mawardi menegaskan, bahwa proyek revitalisasi SMPN 3 Pujut telah melalui proses audit BPK dan diklaim menjadi salah satu sekolah yang dijadikan sampel uji petik di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).
Terkait isu miring tudingan atas ketidak transparanan dalam pengelolaan proyek bersumber dari APBN 2025 ini, Mawardi menegaskan bahwa proyek ini merupakan proyek pemerintah pusat dan seluruh informasi telah disampaikan secara terbuka.
“Informasi nilai proyek dan rincian kegiatan sudah jelas terpampang di papan nama proyek,” tegasnya.
Katanya, pihak kementerian juga beberapa kali melakukan kunjungan lapangan didampingi fasilitator dari Universitas Mataram (Unram). Sementara beberapa catatan perbaikan yang diberikan terkait pemisahan perhitungan volume pekerjaan serta penertiban administrasi, seperti laporan BKU, BKT, buku bank, dan buku pajak.
Mawardi mengakui, kendala yang sempat dihadapi selama ini adalah munculnya kecemburuan sosial di tengah masyarakat sekitar. Terutama terkait keterlibatan tenaga kerja dan penyedia barang.
“Namun semuanya sudah kami koordinasikan. Masyarakat setempat dilibatkan, baik melalui tim komite maupun panitia P2SP, termasuk dalam pembelanjaan barang,” klaimnya.
Sementara itu, dia mengklaim proyek ini telah tuntas dikerjakan 100 persen sesuai dengan kontrak pada 31 Desember 2025. Seluruh pekerjaan fisik telah diselesaikan sesuai dengan perencanaan dan mekanisme yang tertuang dalam perjanjian kerja sama (PKS).
“Secara fisik, progres revitalisasi SMPN 3 Pujut sudah mencapai 100 persen dan pelaksanaannya sesuai dengan ketentuan yang ada,” tegasnya lagi.
Dia menambahkan, fasilitas yang dibangun dan direhabilitasi meliputi tiga ruang kelas baru, rehabilitasi 11 ruang kelas, satu rehabilitasi laboratorium komputer, satu laboratorium IPA, satu ruang UKS, tiga toilet, pengembangan dua ruang kelas, ruang administrasi, serta satu ruang perpustakaan.
“Misalnya ada satu ruangan yang direhabilitasi atapnya, tidak mungkin hanya satu sisi saja yang diperbaiki. Jadi dilakukan penyesuaian agar hasilnya seimbang dan layak,” katanya.
Proyek revitalisasi ini, kata Mawardi, dikelola dengan sistem swakelola. Kepala sekolah bertindak sebagai penanggung jawab, sementara konsultan perencana, konsultan pengawas serta tim P2SP berasal dari unsur lembaga, dinas terkait, dan masyarakat.
Terpisah, Plt Kepala SMPN 3 Pujut Agus Aman enggan berkomentar banyak di proyek ini. Dia mengaku kurang mengetahui secara detail progres proyek revitalisasi ini. Sebab, dirinya baru-baru ini menduduki jabatan plt. Agus baru mengetahui yang digunakan adalah sistem borongan di proyek tersebut.
Sedangkan fasilitas yang dibangun sepengetahun dirinya, terdapat tiga ruang kelas baru. Selain itu dilakukan rehabilitasi fasilitas lain seperti, ruang laboratorium, toilet, perpustakaan, dan lain-lain.
“Pokoknya ada tiga ruang kelas baru,” ungkap dia.
Untuk model pengelolaannya menggunakan sistem swakelola dengan anggaran lebih dari Rp 4 miliar yang bersumber langsung dari pemerintah pusat.
“Saya kurang mengetahui karena tidak terlibat dalam kepanitiaan,” katanya, Rabu lalu.
Menanggapi dugaan adanya kejanggalan dalam proyek ini, Agus Aman menyampaikan bahwa papan informasi proyek sudah terpasang jelas di depan lokasi. Saat ini, panitia sedang mengerjakan proses administrasi berdasarkan masukan dari kementerian.
“Pihak BPK juga telah melakukan kunjungan. Termasuk dirjen datang meninjau lokasi,” beber Agus.(hil)





