LOMBOK – Edi Herman ayah dari Bara Primario tersangka kasus dugaan pembunuhan ibu kandung, Yeni Yudi Astuti akhirnya bicara di hadapan awak media.
Kepada media, ayah tersangka mengharapkan putranya bisa diberikan keringanan hukuman kendati telah melakukan pembunuhan kepada ibu kandungnya sendiri.
Edi berharap, Bara bisa diberikan kesempatan untuk pemeriksaan psikologis dengan didampingi oleh keluarga. Hal tersebut juga telah ia sampaikan ke Polda NTB.
“Nah itu, saya kepingin ada tes psikologis tapi saya ada disitu,” terangnya kepada media di lokasi pemakaman almarhum istrinya di TPU Raudatul Jannah Bagirati, Monjok, Kota Mataram, Rabu 28 Januari 2026.
Kata Edi, dirinya sering sekali memberikan nasihat kepada Bara tetapi karena sikapnya yang sangat pendiam Bara jarang memberikan respons. sebagai ayah Edi juga belum mengetahui apakah putranya selama ini ternyata memiliki permasalahan psikologis atau tidak.
“Anaknya memang pendiam tidak mau memberitahu keluh kesahnya ke bapak, bapak sudah capek ngomong entah dia terima atau nggak tapi tidak ada umpan baliknya ke saya,” ceritanya.
Edi mengaku telah menjenguk Bara di Rutan Mapolda NTB tadi malam, pada momen tersebut putranya untuk pertama kali menyampaikan permohonan maaf. Bara sampai mencium kaki sang ayah.
Dia menambahkan, sebelumnya tidak ada gelagat aneh dari Bara sebelum melakukan aksi pembunuhan kepada ibu kandungnya. Edi terakhir hanya sempat berkomunikasi dengan istrinya melalui chat whatsapp dan kemudian istrinya dilaporkan telah hilang pada Minggu, 25 Januari 2026.
Perilaku nekat Bara, kata Edi, karena putranya itu memiliki utang sebesar Rp 39 juta dan sudah terbayarkan melalui QRIS milik ibunya pada hari yang sama sekitar pukul 02.00 WITA.
“Saat ditransfer itu ibunya sudah nggak ada, sudah berpulang,” bebernya.
Bara juga diceritakannya pernah kabur dari rumah, namun Edi enggen menceritakan masalah karena internal keluarga. Dia sebagai ayah masih merasakan rasa sayang kepada Bara.
“Saya sangat sayang anak itu,” tutupnya.(nis)






