Lebih Dekat dengan Muhammad Fatihul, Penghafal Alquran 30 Juz

oleh -1593 Dilihat
FOTO FENDI JURNALIS KORANLOMBOK.ID Muhammad Fatihul Karomi As Sirah

Muhammad Fatihul Karomi As Sirah merupakan salah satu siswa SMA Plus Pondok Pesantren Barokatul Walidain Rarangan di Desa Pijot, Kecamatan Keruak, Kabupaten Lombok Timur yang menghafal Alquran 30 juz. Ada metode unik diterapkannya, berikut catatan jurnalis Koranlombok.id.

…………………….

TIDAK ada yang tak kenal sosok siswa SMA Plus Pondok Pesantren Barokatul Walidain Rarangan di Desa Pijot satu ini. Pemuda kelahiran Janapria, 18 Agustus 2004 tersebut merupakan anak kedua dari pasangan Syamsudin Sirah dan Puji Hastuti.

Muhammad Fatih awalnya menempuh pendidikan tingkat Sekolah Dasar (SD) di MI NW No.5 Pancor, kemudian melanjutkan sekolah menengah pertama di MTs Mualimin Pancor, sedangkaan SMA di SMA Plus Barokatul Walidain dan secara bersamaan menempuh pendidikan di Mahad Darul Quran Wal Hadist NWDI Pancor.

Pemuda berusia 19 tahun tersebut merupakan salah satu siswa berprestasi di Ponpes Barokatul Walidain, dia telah menuntaskan hafalannya sebanyak 30 juz. Hafalan Alquran ini juga membuat dirinya mendapat banyak prestasi dan lomba- lomba tahfiz baik tingkat kabupaten, provinsi bahkan nasional.

Baca Juga  Dirjen Pas Sebut Pembebasan Bersyarat Napi Tipikor Sesuai Amanat Undang-undang

Sejak kecil ia sudah menorehkan prestasi di bidang tahfiz, yakni mulai dari memperoleh juara 2 pada ajang MTQ kabupaten kategori 1 juz yang ia terima saat masih sekolah di tingkat sekolah dasar.

Kemudian,  di jenjang pendidikan sekolah menengah pertama, dirinya fokus pada kegiatan menghafal Alquran di samping kesibukan sehari- harinya untuk menempuh pendidikan. Dia pun mengaku tidak banyak mengikuti kegiatan lantaran padatnya aktivitas di sekolah pada waktu itu.

“Pagi sekolah kemudian pulangnya telat dan banyak kegiatan ektrakulikuler,” ceritanya.

Kendati demikian, dirinya terus meluangkan waktu bersama Al quran dan berupaya untuk meningkatkan hafalannya. Bahkan untuk membagi waktu, dirinya harus mencuri waktu saat jam kosong sekolah untuk menambah dan mengulang hapalannya.

Setelah selesai tingkat SMP, dia kemudian melanjutkan pendidikan di SMA Plus Barokatul Walidain. Di lembaga pendidikan ini kemudian terus meningkatkan kompetensinya, sehingga saat memasuk kelas II SMA ia diperbolehkan mengikuti program percepatan yakni, mengikuti pendidikan di Mahad Darul Quran Wal hadist NWDI pancor.

Baca Juga  Tidak Ada Pemerasan di Balai Rehabilitasi, Kapolres Loteng jadi Pengawas

Adanya banyak prestasi yang telah ia raih, juara 2 pada  ajang STQ dan MTQ tingkat provinsi kategori 20 Juz.  Kemudian juga sebagai juara 2 pada ajang MHQ tingkat nasional dengan kategori 20 juz. Sedangkan hafalan 30 juz baru dirinya lombakan pada tingkat kabupaten dan meraih juara 2.

Sebagai hafiz, dia memiliki cara unik untuk bisa menghafal 30 juz, dirinya tidak memiliki target khusus yang harus dicapai setiap hari, namun memastikan jika setiap hari memiliki tambahan hapalan, sehingga capaian setiap harinya bervariasi tergantung pada waktu dan kondisinya.

“Kalau lagi males- males itu, saya pergi main sebentar, nanti pulangnya baru ulang lagi,” katanya.

Kebisaan ini terus dirinya ulang sehingga saat ini bisa hafal 30 juz, dia menerangkan jika ada kalanya target yang di tentukan tidak bisa diselesaikan. Menurutnya, kebisaan untuk terus menghafal yang penting dilakukan agar proses menghafal tidak menjadi beban, namun menjadi kenikmatan dalam sehari- hari.

Baca Juga  Harga Beras Meroket, OPD Malah Saling Lempar Tanggungjawab

Pemuda ini menjelaskan jika menjadi hafiz memiliki kenikmatan tersendiri yang sangat sulit untuk diceritakan, namun secara umum jelasnya menjadi penghafal Alquran membuat jiwa menjadi tenang dan merasa selalu bersama Alquran, sebab ketika ada niat untuk membaca Alquran bisa secara langusung mengulang.

“Ada kenikmatan tersendiri yang sulit untuk dijelaskan, intinya saat di jalan di motor kita bisa membaca Alquran,” terangnya.

Ia berpesan bagi para penghafal untuk terus membisakan diri bersama Alquran, dengan kebiasaan ini akan membuat kita lebih mudah menghapal dan tidak menjadikan beban.

“Yang paling penting itu lingkungan, kita melihat ada orang yang lebih banyak hafalannya ini akan jadi semangat bagi kita untuk terus menghapal,” tuturnya.(fen)

 

Tentang Penulis: Redaksi Koranlombok

Gambar Gravatar
Koranlombok media online dari Provinsi Nusa Tenggara Barat. Koranlombok selalu menayangkan berita Penting, Unik dan Menarik untuk dibaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.