LOMBOK – Bau nyale atau tangkap cacing laut baru saja selesai digelar masyarakat Lombok. Tepatnya, Jumat pagi (1/3/2024). Ini merupakan agenda tahunan Pemerintah Lombok Tengah yang disebut juga sebagai pesta rakyat.
Apakah Anda tahu tidak nyale itu aman dikonsumsi? Berikut keterangan lengkap Dokter Spesialis Gizi Klinik, Nurul Ratna Mutu Manikam.
Dokter Nurul mengungkapkan bahwa nyale memang aman untuk dikonsumsi lantaran berbeda dengan cacing biasa pada umumnya. Nyale memiliki kandungan protein hewani yang tinggi, sehingga jika diolah dengan tepat, tak perlu takut berbahaya bagi kesehatan.
Memang dia (nyale) itu kandungan proteinnya tinggi, dan kita enggak terlalu takut kalau cacing laut begitu karena dia munculnya sekali-sekali saja, sekali setahun,” katanya dalam acara Aksi Gizi Generasi Maju bersama Danone Indonesia di Lombok.
“Kemudian dia juga munculnya dalam kondisi tertentu dimana dia sangat dipengaruhi musim. Berbeda dengan cacing sungai atau cacing tanah, itu beda,” tambahnya.
Nurul menjelaskan, konsumsi cacing tanah atau cacing sungai untuk jadi protein hewani memang harus dihindari. Hal tersebut berkaitan dengan higienitas dan kandungannya yang berbeda dengan nyale.
“Kalau cacing tanah itu memang kita harus hindari, karena dia ada telurnya cacing yang sangat berbahaya dan bikin jadi kecacingan. Beda sama ini (nyale), kalau ini dari segi higienitasnya dia memang lebih berbeda dengan yang cacing tanah atau cacing sungai,” kata Nurul.
Dia menambahkan, bahwa sebelum dikonsumsi, nyale wajib diolah dengan baik. Mulai dari dibersihkan kotoran yang menempel sampai tuntas, hingga kemudian dimasak sampai benar-benar matang.
“Harus dibersihkan dulu ya. Harus dibersihkan terus diolah sampai matang. Harus sampai matang. Soalnya kalau enggak, nanti bakteri-bakteri yang ada di dalam situ yang terkontaminasi jadinya penyakit. Jadi salmonella, diare, dan sebagainya,” katanya.
Sedangkan dalam proses memasaknya, Nurul menjelaskan bahwa nyale bisa dimasak dengan cara apapun. Namun, Anda mungkin perlu mempertimbangkan kembali jika memilih untuk digoreng.
“(Cara) apapun oke. Prinsipnya kalau makanan, entah itu hewani atau apapun, kalau prosesnya dalam suhu tinggi, kalau goreng itu kan suhu tinggi, itu banyak komponen yang rusak memang secara umum,” kata Nurul.
Nurul menuturkan bahwa dari prinsip pengolahan makanan tersebut, maka ia lebih menyarankan nyale untuk dipepes atau dimasak bersama dengan santan untuk melengkapinya. Bukan digoreng.
“Jadi kalau dilihat dari cara-cara itu, memang yang bagus itu dipepes ataupun (diberi) santan. Terus santan kan ada kandungan lemaknya, jadi penyerapnya saling membantu satu sama lain,” ujar Nurul.
Sedangkan Nurul menambahkan, kandungan protein pada nyale bisa menjadi lebih padat jika dibuat menjadi pepes. Hal tersebut dikarenakan prosesnya berbeda, sehingga kandungan protein bisa lebih padat.
Dalam kesempatan yang sama, Nurul turut menjelaskan terkait kandungan gizi pada nyale. Menurutnya, bagi warga NTB, nyale memang bisa dijadikan salah satu protein hewani yang mudah ditemui.
“Banyak potensi pangan lokal di setiap daerah di Indonesia yang bisa menjadi sumber protein hewani. Salah satunya Lombok, yang memiliki beragam pangan potensial yang cukup terkait dengan protein hewani untuk memenuhi gizi anak,” ujar Nurul.
“Seperti ikan, udang, cumi-cumi, dan kerang. Contoh lain adalah nyale yang ternyata kaya protein hewani hingga sebanyak 43,84 persen. Sedangkan telur ayam mengandung 12,2 persen dan susu sapi sekitar 3,5 persen,” tambahnya.
Lebih lanjut Nurul mengungkapkan bahwa sebelum dikonsumsi, nyale wajib diolah dengan baik. Mulai dari dibersihkan kotoran yang menempel sampai tuntas, hingga kemudian dimasak sampai benar-benar matang.
“Harus dibersihkan dulu ya. Harus dibersihkan terus diolah sampai matang. Harus sampai matang. Soalnya kalau enggak, nanti bakteri-bakteri yang ada di dalam situ yang terkontaminasi jadinya penyakit. Jadi salmonella, diare, dan sebagainya,” kata Nurul.
Sedangkan dalam proses memasaknya, Nurul menjelaskan bahwa nyale bisa dimasak dengan cara apapun. Namun, Anda mungkin perlu mempertimbangkan kembali jika memilih untuk digoreng.
Nurul menuturkan bahwa dari prinsip pengolahan makanan tersebut, maka ia lebih menyarankan nyale untuk dipepes atau dimasak bersama dengan santan untuk melengkapinya. Bukan digoreng.
“Jadi kalau dilihat dari cara-cara itu, memang yang bagus itu dipepes ataupun (diberi) santan. Terus santan kan ada kandungan lemaknya, jadi penyerapnya saling membantu satu sama lain,” ujar Nurul.
Nurul menambahkan, kandungan protein pada nyale bisa menjadi lebih padat jika dibuat menjadi pepes. Hal tersebut dikarenakan prosesnya berbeda, sehingga kandungan protein bisa lebih padat.
Tak berhenti di sana, Nurul mengungkapkan bahwa nyale juga memiliki kandungan zat besi yang cukup tinggi bila dibandingkan dengan hewan darat lainnya.
“(Nyale) kadar zat besinya cukup tinggi mencapai 857 ppm. Sangat tinggi bila dibandingkan dengan hewan darat yang 80 ppm,” kata Nurul.(ist/dik)







