LOMBOK – Pihak sekolah mulai dari tingkat SD, SMP bahkan SMA/sederajat dilarang berbisnis dengan menjual seragam sekolah kepada siswa baru.
Hamper setiap tahun, kasus jual seragam oleh pihak sekolah selalu ditemukan dan menjadi masalah. Pasalnya, sesuai Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Permendikbudristek) Nomor 50 tahun 2022 melarang sekolah menjual seragam.
Maka jelang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2024-2025 di NTB, Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan NTB mulai mempelototi akan dimulainnya proses PPDB.
“Jadi jelas dalam aturan sekolah dilarang menjual seragam sesuai aturan dalam PP Nomor 17 tahun 2010, pendidik atau tenaga pendidik dilarang menjual seragam atau bahan seragam,” tegas Kepala Keasistenan Pencegahan Maladministrasi Ombudsman RI Perwakilan NTB, Arya Wiguna kepada Koranlombok.id, Rabu kemarin.
Ditegaskan Arya, pengadaan seragam tanggungjawab orangtua siswa. Maka dari itu, orangtua bebas mau membeli seragam sekolah dimana saja.
“Kalau dipaksa oleh pihak sekolah itu melanggar, silakan lapor ke Ombudsman,” tegas dia.
Dijelaskan pihaknya, berdasarkan Permendikbudristek Nomor 50 tahun 2022, sekolah dapat mengadakan seragam bagi siswa yang tidak mampu.
“Jadi jelas sekali, sekolah tidak boleh menjual apalagi mewajibkan dan dijadikan syarat PPDB,” katanya.
Kata Ary, hampir setiap tahun dalam momen PPDB Ombudsman NTB menerima laporan pihak sekolah menjual seragam. Selain itu pihak sekolah juga mewajibkan para orangtua melalui calon siswa baru.
“Kami akan memantau bahkan membuka Posko Pengaduan, termasuk aduan terkait penjualan seragam,” ungkapnya.
Ary menyebutkan, hari ini (Rabu kemarin, red) pihak Ombudsman NTB melakukan rapat koordinasi (Rakor) dengan Ombudsman pusat membahas pengawasan PPDB tahun 2024.
“Kami tunggu arahan pusat, InsyAllah bulan ini kita buka posko,” katanya.
Informasi yang berhasil dikumpulkan Koranlombok.id, sebagian besar sekolah favorit bahkan swasta di NTB melakukan praktek sama. Mereka mewajibkan orangtua membeli seragam di sekolah dengan dalih agar sama.
Biasanya biaya beli baju seragam ini orangtua keluarkan saat momen pendafaran ulang. Yang terjadi di depan mata, ketika pihak sekolah meminta membeli baju imtaq, baju olahraga, dan seragam lainnya sebagai ciri khas sekolah. Maka tak ada alasan orangtua atau siswa baru tidak membeli.
Bisnis setahun sekali yang dijalankan oknum pihak pendidik ini kandang bekerjasama dengan pihak penyedia barang. Bahkan ada juga langsung dieksekusi oknum pihak sekolah dengan melakukan pengadaan oleh koperasi sekolah setempat.(dik)





