LOMBOK – Video viral di media sosial facebook sejumlah oknum siswa SMA terlibat tawuran di Savana Bale Tepak, Bendungan Batujai, Kecamatan Praya Barat, Lombok Tengah.
Dalam tawuran itu, diduga ada siswa dari SMAN 2 Praya. Dalam video aksi tawuran itu terlibat para pelajar membawa senjata tajam (Sajam) di sekitar Savana Bale Tepak, Bendungan Batujai.
Di lokasi tawuran, ditemukan sepeda motor nomor polisi DRĀ 2244 VE. Motor ini diduga milik salah seorang siswa, selain itu dalam video juga warga sekitar sempat memvideokan kejadian tersebut dan menanyakan asal pelajar. Sebagai bukti dalam video ditemukan ikat pinggang bertuliskan SMAN 2 Praya. Begitu juga seragam yang dikenakan bertuliskan SMAN 2 Praya.
Atas kejadian viral ini, Guru Bimbingan Konseling (BK) SMAN 2 Praya, I Nyoman Danti menegaskan pihaknya masih belum mengetahui pasti muridnya yang terlibat tawuran. Temasuk pemilik sepeda motor yang ditemukan. Dia membantah siswanya terlibat pemukulan apalagi membawa sajam.
“Yang lari pukul – pukul itu nah itu yang kita tidak tau, kan banyak orang kita tidak tau apa – apa. Yang punya motor kita belum tau,” tegasnya kepada media saat dikonfirmasi, Rabu 15 Oktober 2025.
Guru BK juga mengaku telah memanggil tiga orang siswa beserta orang tua mereka untuk mengetahui informasi sebenarnya. Kata dia, hasil pemanggilan tersebut diketahui tawuran dipicu konflik antara dua siswa yang sama-sama duduk di kelas X yang saling menatap mata.
“Bukan saling ejek, tapi saling keleng (bertatapan, red), tidak ada saling tantang. Dahulunya sebelum saling keleng itu ada bahasa bendungan dan itu dimasukan ke hati ya begitu saja,” cerita gurunya.
Sementara itu soal video lain menunjukan salah seorang siswa diamankan di rumah warga pada waktu tawuran, menurut Danti siswa tersebut adalah memang benar siswa SMAN 2 Praya.
Dalihnya, posisi siswa tersebut tidak terlibat tawuran dan hendak pulang ke rumah dan mengamankan diri ke rumah warga sekitar bendungan.
Atas kejadian itu, pihaknya tak memberikan sanksi kepada ketiga siswa tersebut dan hanya memberikan teguran. Danti mengacu kepada tata tertib dan sebagai pendidik harus memperbaiki siswa mereka.
Di tempat yang sama, Kepala SMA Negeri 2 Praya Mustanadi menegaskan pihaknya senantiasa mengupayakan agar hal tersebut tidak terulang melalui pembinaan dan pengarahan karakter.
“Kami terus berusaha mengupayakan perbaikan ke depan agar mereka bisa belajar lebih baik, tumbuh karakternya lebih baik, ini bagian dari tantangan,” tegasnya.
Dalam menentukan sanksi, pihaknya masih mendalami bagaimana peran siswa yang terlibat. Tapi bisa saja jika ada potensi mengganggu keamanan maka bisa saja diberikan skors ataupun pemindahan sesuai tata tertib yang berlaku terlebih lokasi kejadian jauh dari sekolah.
“Mungkin kita dekatkan dengan orangtua untuk pengawasan, karena terjadi di luar jam sekolah dan jauh dari sekolah. Kami juga terbatas pengawasannya,” katanya.(nis)







