LOMBOK — Elpiji 3 kilogram mulai dirasakan langka beberapa pekan terakhir di Kabupaten Lombok Tengah. Kondisi ini ditandai dengan berkurangnya pasokan serta kenaikan harga di tingkat pangkalan.
Beberapa pengecer mengaku kesulitan memperoleh elpiji subsidi dalam jumlah normal. Akibatnya, mereka terpaksa membeli dengan harga lebih tinggi guna menjaga ketersediaan stok bagi konsumen.
Seorang pengecer elpiji 3 Kg di Praya Meinah mengatakan, harga elpiji dari pangkalan yang sebelumnya berkisar Rp 20 ribu per tabung kini mengalami kenaikan. Dalam kondisi tertentu, dia harus membeli dengan harga Rp 21 ribu per tabung.
“Kadang-kadang saya beli dengan harga 21 ribu dari pengampas, yang penting ada untuk dijual,” ungkap Meinah kepada jurnalis Koranlombok.id, Rabu 25 Maret 2026.
Kenaikan harga berdampak pada harga jual di tingkat konsumen yang kini mencapai sekitar Rp 23 ribu per tabung. Meski demikian, menurut Meinah persoalan utama bukan hanya pada harga, melainkan pada keterbatasan pasokan.
Ia mengungkapkan, jika sebelumnya dapat memperoleh 50 hingga 60 tabung dalam sekali distribusi, kini jumlah tersebut menurun menjadi sekitar 25 hingga 30 tabung. Selain itu, frekuensi pengiriman juga mengalami penurunan.
“Dulu dalam seminggu bisa dua kali pengiriman, sekarang hanya satu kali,” ceritanya.
Meinah menduga kelangkaan ini dipicu adanya praktek penimbunan oleh oknum tertentu. Sehingga distribusi elpiji 3 kilogram ke tingkat pengecer menjadi terganggu.
Sementara, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Lombok Tengah Lalu Setiawan tak bisa memberikan penjelasan detail. Pihaknya berjanji akan melakukan rapat koordinasi untuk mengetahui apakah gas elpiji maupun BBM bersubsidi mengalami kelangkaan atau tidak.
“Makanya saya meminta data kepada para Kabid terkait untuk memastikan ketersediaannya,” tegasnya singkat.
Di samping itu, Admin Koperasi Jasa Usaha Bersama (KJUB) Pusaka, Miranda Dwi Fitriani mengklaim bahwa sejauh ini distribusi elpiji masih berjalan normal.
“Untuk ketersediaan gas LPG, belum ada laporan kelangkaan dari pangkalan kami. Biasanya jika terjadi kelangkaan, pangkalan akan meminta tambahan jatah, namun sampai saat ini belum ada,” terangnya saat dikonfirmasi WA, Rabu 25 Maret 2026.
Menurut dia, isu kelangkaan justru berpotensi memicu kepanikan di tengah masyarakat. Kondisi tersebut dapat mendorong pembelian berlebih atau panic buying yang berujung pada ketidakseimbangan distribusi di lapangan.
“Himbauan kami masyarakat tidak perlu panik. Karena biasanya kelangkaan justru dipicu oleh pembelian berlebihan akibat isu yang beredar,” tegasnya.
Miranda menyampaikan, harga elpiji 3 kg di pangkalan resmi masih mengacu pada Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah, yakni Rp18 ribu per tabung. Ia menambahkan, harga yang melebihi ketentuan umumnya ditemukan di tingkat pengecer atau pangkalan tidak resmi.
Di sisi lain, pihak Pertamina disebut telah melakukan langkah antisipasi dengan menambah pasokan atau extra dropping LPG pada bulan Maret. Total penyaluran bahkan mencapai 250 persen dari alokasi harian atau sekitar 87.360 tabung.
“Kami melihat ini bukan kelangkaan, melainkan peningkatan konsumsi. Ada pergeseran pola konsumsi akibat arus mudik, masyarakat yang biasanya tinggal di kota kembali ke daerah,” terangnya.
Selain itu, peningkatan konsumsi juga dipicu oleh kebutuhan menjelang perayaan Lebaran Topat. Sebagian masyarakat membeli lebih dari satu tabung dalam sehari sebagai langkah antisipasi.
Untuk menjaga stabilitas distribusi, pihaknya bersama Pertamina telah mengeluarkan imbauan kepada agen dan pangkalan di seluruh NTB. Di antaranya melarang penjualan kepada pengecer, mewajibkan penjualan langsung di pangkalan, serta membatasi pembelian maksimal satu tabung per orang untuk rumah tangga.
“Langkah ini diharapkan dapat menstabilkan kondisi di lapangan dan memastikan distribusi tepat sasaran,” harapnya.(hil)






