Oknum Perawat dari Desa Barabali Dilaporkan ke Polisi

oleh -3100 Dilihat
FOTO ANIS PRABOWO JURNALIS KORANLOMBOK.ID Kepala Puskesmas Mantang melihat kondisi Inaq Maal atau Inaq Imin di Dusun Barabali I, Desa Barabali, Kecamatan Batukliang.

 

LOMBOK – Oknum perawat inisial I dari Desa Barabali, Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah dilaporkan kepada pihak kepolisian Polres setempat. Perawat I dilaporkan atas sangkaan melakukan malpraktek kepada Inaq Maal, 65 tahun warga Dusun Barabali I, Desa Barabali.

Ketua LSM Laskar NTB Agus Setiawan mengatakan, pihaknya bersama keluarga korban telah melaporkan oknum perawat tersebut belum lama ini.

Agus menegaskan jika oknum perawat I diduga memberikan penanganan medis tanpa diagnosa terlebih dahulu dari dokter. Selain itu I juga diduga tidak memiliki izin untuk melakukan praktek.

 

“Jelas kan tidak punya surat izin praktek (SIP), sekarang buktinya ada korban yang tergeletak akibat dugaan tindakan dari oknum perawat tersebut,” ungkapnya, Rabu (6/6/2024).

Setelah melayangkan laporan ke Polres, pihaknya Rabu kemarin melakukan hearing ke Dinas Kesehatan Lombok Tengah kemudian meminta dinas untuk mengambil tindakan. Tujuannya agar tidak ada lagi korban malpraktek.

Baca Juga  Satu Tewas di Tempat, Ini Identitas dan Kronologis Kecelakaan Beruntun

Selain itu pihaknya juga meminta agar dinas kesehatan memberikan perawatan untuk pembersihan luka pasien, karena mereka tidak mampu jika setiap harinya membayar Rp. 150 ribu untuk perawatan.

“Saya dorong pemerintah memberikan perawatan gratis karena korban tidak mampu, karena aksesnya juga sulit mereka jika harus ke Puskesmas untuk berobat,” katanya.

 

Anak dari Inaq Maal, Kamarudin menceritakan jika sekarang ibunya divonis diserang kanker. Awalnya sang ibu mengalami pembengkakan di area antara rahang dengan leher sejak sekitar 3 bulan lalu.

Ia sempat memberikan pengobatan tradisional namun kondisi benjolan tersebut memerah dan berair serta akhirnya pecah, mengetahui hal tersebut dirinya memanggil perawat untuk membersihkan luka ibunya saat itu.

Baca Juga  Construction of Rinjani Cable Car Still Surveyed

 

“Kami kira bisul biasa dan sudah dibersihkan kemudian diperban, jadi penumpukan cairan itu membuat infeksi, kemudian sekitar 15 hari kemudian kita disarankan oleh perawat itu dibawa ke RS Bodak karena lukanya berlubang,” ceritanya.

 

Kamarudin mengatakan terkait dugaan kesalahan penanganan yang dilakukan oleh oknum perawat tersebut, ia tidak mengetahui secara pasti. Sebab sampai sekarang dirinya tak mengetahui penyakit apa yang diderita sang ibu.

“Kita kan tidak tahu penyakitnya apa, kita kan sebagai orang Sasak taunya ini ‘denggong’ ya kita pengobatan tradisional dulu,” katanya.

Baca Juga  Construction of the Cable Car to Rinjani Completed in 2025

 

Sementara itu dirinya mengatakan tidak mengetahui kabar terkait dugaan adanya malpraktek, ia mengaku memiliki keterbatasan akses informasi. Kamarudin mempersilakan siapapun yang ingin membantu ibunya mendapatkan akses pengobatan.

 

“Masalahnya semua orang yang datang ini kita tidak tau, tiba-tiba kita ditanyakan begini begitu, makanya yang bilang itu siapa karena pihak keluarga tidak pernah bicara,” ungkap dia.

Pihaknya berharap ada tindak lanjut terkait perawatan ibunya, karena ada saran dari RSUP NTB agar dilakukan kemoterapi namun masih menunggu hasil laboratorium yang masih diperiksa di Surabaya.

“Janjinya 2 atau 3 bulan baru bisa dilakukan gimana pengobatannya apakah kemoterapi dan radiasi atau dioperasi,” pungkasnya.(nis)

 

Tentang Penulis: Redaksi Koranlombok

Gambar Gravatar
Koranlombok media online dari Provinsi Nusa Tenggara Barat. Koranlombok selalu menayangkan berita Penting, Unik dan Menarik untuk dibaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.