LOMBOK – Elpiji subsidi 3 kg masih langkah di NTB. Tudingan terus mengarah kepada oknum pengelola dapur makan bergizi gratis (MBG). Pasalnya, baru kali ini kelangkaan panjang terjadi. Biasanya hanya satu atau dua pekan. Tapi kali ini kelangkaan elpiji 3 kg terus meluas di wilayah NTB.
Mendengar isu miring ini, Ketua satuan tugas (Satgas) MBG Provinsi NTB, Ahsanul Khalik mengkalim telah mengecek fakta di lapangan. Pihaknya turun ke setiap kabupaten kota namun hasil tidak ditemukan ada dapur MBG menggunakan gas elpiji subsidi untuk masyarakat miskin.
“Saya cek dapur dan stok di gudangnya belum ada saya temukan yang memakai 3 kg. Karena memang tidak dibenarkan memakai elpiji subsidi,” tegas mantan Kepala Dinas Sosial NTB kepada Koranlombok.id.
Ahsanul Khalik mengklaim lagi, pihaknya sudah satu bulan lalu turun ke lapangan untuk mencari kebenarannya.
“Kalau teman-teman media ada menemukan informasi kan ke kita,” katanya.
Dijelaskannya, jika ada ditemukan bukan saja pemilik SPPG atau dapur yang ditegur keras oleh badan gizi nasional (BGN). Tetapi Kepala SPPG atau SPPI juga bisa mendapatkan sanksi. Sebab, memang pada persyaratan sudah jelas mitra tidak boleh mempergunakan elpiji subsidi.
“Tahapan tentu teguran, kalau sampai berulang maka akan dibuatkan teguran dan ditindak lanjuti menjadi laporan untuk sanksi tegas ke Badan Gizi Nasional,” terangnya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Lombok Tengah, Raden Roro Sri Mulyaningsih mengimbau kepada pihak dapur MBG tidak menggunakan gas melon. Dapur MBG tidak pernah masuk dalam daftar penerima resmi yang telah diusulkan sejak November 2024.
“Dapur MBG ini belum pernah diusulkan, dan keberadaannya baru muncul belakangan. Jadi sudah jelas siapa saja yang berhak menggunakannya,” tegasnya kepada media, Kamis 18 September 2025.
Roro menjelaskan, kuota distribusi gas subsidi sudah dihitung berdasarkan jumlah kepala keluarga (KK) miskin maupun kebutuhan UMKM.
“KK itu sekian tabung per bulan, kemudian UMKM berapa tabung, sehingga muncullah angka 35 ribu. Tapi kan ACC-nya pasti di bawah itu,” jelasnya.
Terkait pengawasan, pihaknya telah melakukan pengecekan ke beberapa dapur di wilayah Kecamatan Jonggat. Hasilnya, tidak ditemukan penggunaan gas melon di sana.
“Kemarin ada laporan penggunaan gas melon. Akan tetapi saat ini belum ada temuan. Tim juga sudah memfoto jenis tabungnya, yaitu tabung pink dan tabung yang lonjong,” katanya.(red/hil)







