LOMBOK — Sejumlah warga di Kanjanan Dusun Kopang I, Desa Kopang Rembiga, Kecamatan Kopang, Lombok Tengah ramai-ramai menggeruduk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), pada Minggu malam, 19 April 2026. Aksi tersebut dipicu oleh keluhan masyarakat terhadap limbah produksi program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimbulkan bau menyengat serta keberadaan dapur MBG yang berada di tengah permukiman warga.
Narasumber Koranlombok.id warga Kampung Subagan Kanjanan mengatakan jika masyarakat merasa terganggu dengan bau limbah yang berasal dari aktivitas dapur SPPG. Bau tidak sedap tersebut disebut sudah dirasakan warga selama beberapa hari terakhir.
Menurut sumber yang meminta identitas dirahasiakan ini, berdasarkan pengakuan pihak mitra persoalan ini diduga terjadi akibat kesalahan petugas dalam mengoperasikan sistem pembuangan limbah. Namun masyarakat tetap memprotes karena dampak bau menyengat tersebut sudah sangat mengganggu aktivitas warga di sekitar lokasi.
“Dari pihak mitra merasa sudah sesuai dengan aturan. Itu juga yang memancing kemarahan masyarakat karena keluhan warga dianggap tidak diindahkan. Dari hasil musyawarah di desa juga belum ada tindak lanjut,” katanya via telepon, Selasa 21 April 2026.
Selain persoalan limbah, masyarakat juga mempersoalkan batas lahan SPPG yang diduga menggunakan sebagian lahan milik warga. Beberapa warga yang lahannya berbatasan langsung dengan lokasi keberatan karena area tersebut digunakan untuk kepentingan fasilitas SPPG.
Dia menambahkan, persoalan ini sebenarnya telah dimediasi di tingkat desa pada 1 Februari 2026. Dalam pertemuan tersebut disepakati agar pihak pengelola SPPG membuat pembatas antara lahan fasilitas dan lahan milik warga. Namun hingga saat ini, warga menilai belum ada tindak lanjut dari pihak pengelola.
Sementara itu, Kepala Desa Kopang Rembige, Patria Negara membenarkan adanya aksi protes warga yang mendatangi SPPG Kanjanan. Berdasarkan informasi dari kepala dusun setempat, bau menyengat dari limbah dapur SPPG tercium hingga sekitar 25 meter dari lokasi.
Menurut Kades, warga yang mencium bau tidak sedap tersebut langsung keluar rumah untuk mencari sumber bau dan mendapati bahwa instalasi pengolahan air limbah (IPAL) di lokasi SPPG belum tersedia. Selain itu, posisi dapur SPPG juga berada di tengah permukiman warga.
“Terkait dengan masyarakat yang demo di SPPG Kanjanan Kopang menurut informasi dari Kadus di sana ada bau yang menyengat keluar sampai 25 meter,” kata Patria kepada Koranlombok.id, Selasa 21 April 2026.
Kades menjelaskan bahwa pihak desa sebenarnya sudah melakukan mediasi pada 1 Februari 2026 antara masyarakat dan pengelola SPPG. Dalam mediasi tersebut disepakati penyelesaian secara kekeluargaan dengan sejumlah syarat yang disetujui bersama. Namun hingga saat ini, kata Patria, belum ada tindak lanjut dari pihak pengelola SPPG terhadap hasil mediasi tersebut.
“Katanya masyarakat juga sudah mempertanyakan ke Ketua Harian Satgas MBG, Lalu Setiawan namun jawabannya ini merupakan program yang sentralistik, jadi terpusat,” bebernya.
Patria menambahkan, sebelumnya masyarakat juga sudah berkoordinasi langsung dengan pengelola SPPG. Saat itu pihak pengelola menyatakan siap menjalankan seluruh kesepakatan hasil mediasi, namun hingga kini belum ada perubahan di lapangan.
“Karena tetap ada keributan, kami panggil kedua belah pihak antara pihak SPPG dan masyarakat. Dari jawaban pihak SPPG mereka siap melaksanakan aturan yang berlaku, tapi sampai saat ini belum ada perubahan. Bahkan SPPG itu pernah ditutup, tapi dalam waktu seminggu dibuka lagi. Ada apa ini, kami juga bingung,” ceritanya.
Adapun aksi warga menggeruduk SPPG Kanjanan yang berada di Dusun Kopang I, Desa Kopang Rembige terjadi pada Minggu malam, 20 April 2026. Saat itu warga keluar rumah setelah mencium bau tidak sedap dari arah dapur SPPG dan kemudian mendatangi lokasi untuk meminta penjelasan dari pengelola.
Patria menambahkan, aktivitas pegawai SPPG yang bekerja hingga tengah malam juga kerap menimbulkan keributan sehingga mengganggu ketenangan warga sekitar.
“Malam-malam masyarakat di sekitar sana juga tidak tenang karena sangat terganggu,” pungkasnya.(hil)






