Kasus Kematian Santri di Praya, Polisi Periksa Sejumlah Petinggi Pondok Pesantren

oleh -2128 Dilihat
FOTO ANIS PRABOWO JURNALIS KORANLOMBOK.ID / Kapolres Lombok Tengah : AKBP Eko Yusmiarto

 

 

LOMBOK – Penyidik Polres Lombok Tengah bergerak cepat dengan memeriksa sejumlah petinggi pondok pesantren (Ponpes) ternama di Kecamatan Praya, Jumat (22/8/2025). Pemeriksaan ini buntut dari kasus meninggal dunianya seorang santri SMP Islam di Kecamatan Praya, inisial HM. Korban berusia 12 tahun itu merupakan warga Desa Persiapan Mentokok, Kecamatan Praya Barat.

 

Jurnalis koranlombok.id di Polres sempat bertemu dengan kepala keamanan ponpes inisial SN. Dia datang ke polres dalam rangka memenuhi panggilan pemeriksaan penyidik. SN kepada media belum bisa memberikan keterangan apapun.

Selain SN, turut diperiksa juga Kepala SMP Islam dengan inisial pondok N. Termasuk sejumlah santri yang sekamar dengan korban bahkan santri yang bertugas sebagai pengurus asrama.

Baca Juga  Belasan Plt Kepala SD Gunakan SK Kadaluarsa di Lombok Tengah

 

 

“Kita masih melakukan pemeriksaan dengan saksi-saksi,  tetapi untuk penetapan tersangka dan segala macamnya masih kita lakukan pendalaman apakah kematiannya akibat benturan ataupun perkelahian,” ungkap Kapolres Lombok Tengah, AKBP Eko Yusmiarto di ruang kerjanya, Jumat (22/8/2025).

 

Kepada media, Kapolres mengaku dalam menangani kasus ini. Pihaknya akan lebih berhati-hati, sebab korban masih anak-anak dan berdampak pada psikologis kepada keluarga korban yang masih berduka.

Baca Juga  Belanja Pegawai di Atas 30 Persen, Wabup Nursiah Belum Pikirkan Kurangi PPPK

 

Diklaim kapolres, keluarga korban menolak untuk mengautopsi mayat santri tersebut dan mengaku telah ikhlas. Kendati demikian, polres masih melanjutkan pendalaman terhadap perkara tersebut.

 

“Tetap kita pakai laporan informasi, kita lakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi tetapi untuk maju ke tingkat penyidikan kita masih dalami dahulu, kita masih tingkat lidik,” bebernya.

 

Diceritakan kapolres, korban HM sebelumnya sempat terlibat perkelahian dengan sesama santri di dalam pondok yang ditenggarai akibat saling usil atau saling ejek.

 

Sambung Eko, saat perkelahian itu terjadi korban menghindari pukulan dan kepala bagian belakangnya membentur tembok. Setelah kejadian itu korban tak merasakan sakit dan beraktivitas normal. Kemudian selang beberapa hari dari perkelahian tersebut, HM sempat terjatuh saat di lapangan setelah mengikuti lari pagi bersama. Selain itu tangan kanan korban juga terasa kaku sampai tidak bisa makan dan sempat dipijat.

Baca Juga  Respons Kuasa Hukum Kasus Korupsi dana BLUD RSUD Praya

“Kemudian beberapa hari dirawat di ICU kan, koma. Kita tidak tau apakah karena penyakit bawaan kah atau ada akibat benturan kah kita belum tau juga,” katanya.(nis)

 

Tentang Penulis: Redaksi Koranlombok

Gambar Gravatar
Koranlombok media online dari Provinsi Nusa Tenggara Barat. Koranlombok selalu menayangkan berita Penting, Unik dan Menarik untuk dibaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.