Gempa Megathrust Lebih Dahsyat dari Tsunami Aceh, BPBD Lotim: Jangan Panik

oleh -1962 Dilihat
FOTO PETA BMKG GEMPA MEGATHRUST

 

LOMBOK – Akhir-akhir ini media diramaikan dengan pemberitaan gempa megathrust. Gempa ini diperkirakan memiliki guncangan lebih dahsyat jika dibandingkan gempa yang mengakibatkan air laut naik alias tsunami, seperti terjadi di Aceh tahun 2004 silam.

 

Menanggapi kabar ini, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lombok Timur, Lalu Muliadi menerangkan jika informasi terkait gempa megathrust tersebut bukan peringatan dini.  Dimana melainkan memberikan informasi kepada masyarakat terkait potensi gempa jika dilihat dari adanya gempa serupa yang terjadi di Tunjaman, Nankai dan mengguncang Prefektur Miyazaki, Jepang, belum lama ini.

 

“Apa yang disampaikan BMKG bukan peringatan dini, hanya mengingatkan kembali bahwa di Indonesia ada potensi gempa yang perlu diwaspadai,” terangnya pada jurnalis Koranlombok.id di Ruang Kerjanya, Senin (19/8/2024).

Baca Juga  Dugaan Intimidasi Wartawan Oleh Oknum Perwira Polda NTB Disesalkan

 

Ditegaskan Kalak, menunggu waktu digunakan karena keberadaan Zona Megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut sebagai sebuah potensi yang diduga oleh para ahli sebagai zona kekosongan gempa besar (seismic gap) yang sudah berlangsung selama ratusan tahun. Sehingga harus diwaspadai karena dapat melepaskan energi gempa signifikan yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

 

Ia menerangkan, jika waktu terjadinya gempa sejauh ini belum bisa diprediksi oleh para ilmuan maupun para peneliti di lembaga penelitaian manapun. Sehingga upaya yang dapat dilakukan yakni, berupa imbauan kepada masyarakat terkait adanya potensi gempa tersebut untuk diwaspadai.

Baca Juga  HBK Dorong APH Ungkap Kasus PMI NTB yang Disiksa Majikan

 

Kendati demikian, pihaknya menyebut masyarakat tidak perlu panik dan takut akan gempa tersebut, BPBD akan terus berupaya untuk mempercepat informasi kepada masyarakat jika terjadi gempa. Sehingga tindakan evakuasi dapat dilakukan dengan cepat dan tanggap.

 

“Kecuali kalau sedang terjadi baru kita bisa tahu, kita hanya bisa percepat informasi soal terjadinya gempa,” terangnya.

 

Ia juga menyebut sejauh ini masih belum ada petunjuk lebih lanjut soal antisifasi gempa megathrust. Pihaknya hanya terus mengimbau kepada masyarakat akan potensi gempa tersebut yang bisa terjadi sewaktu- waktu.

Baca Juga  Semarak ! IRON MAN 2022 Diikuti 33 Negara

 

“Sampai saat ini belum ada, kita tetap memberikan imbauan saja,” katanya.

 

Ia menambahkan, gempa megathrust atau gempa besar terakhir terjadi di Tunjaman Nankai terjadi pada 1946 dengan usia seismic gap 78 tahun. Sedangkan gempa besar terakhir di Mentawai-Siberut terjadi pada 1797 dengan usia seismic gap 227 tahun.

 

“Artinya seismic gap Mentawai- Siberut periodisitasnya jauh lebih lama jika dibandingkan dengan seismic gap Nankai.

Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan beraktivitas normal seperti biasa, seperti melaut, berdagang, dan berwirausha,” tutupnya.(fen)

 

Tentang Penulis: Redaksi Koranlombok

Gambar Gravatar
Koranlombok media online dari Provinsi Nusa Tenggara Barat. Koranlombok selalu menayangkan berita Penting, Unik dan Menarik untuk dibaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.